0156: JIMA' DALAM KEADAAN BERNAJIS


Oleh: Ana Uhibbuka Fillah
 
 
Assalamu`alaikum,numpang corat-coret
 
Jimak dalam keadaan bernajis
 
Telah menjadi salah satu kewajiban sang istriuntuk memenuhi keinginan sang suami untukberhubungan intim. Namun masalah timbulpada bila istri mengetahui bahwa kelaminsuaminya bernajis karena tidak dibersihkansetelah buang air kecil.
 
1. Bagaimanakah hukumnya melakukanhubungan badan bila kelamin suami atau istribernajis?
 
2. Dalam keadaan demikian, apakah terhadap istri wajib memenuhi ajakan suaminya untuk berhubungan badan?
 
3. Bila istri menolak, apakah hal tersebut akan mengakibatkanya menjadi nusyuz (durhaka)?_______________________
 
1. Haram hukumnya melakukan jimak (bersetubuh) bila alat kelamin dalam keadaan bernajis baik kelamin suami maupun istri.
 
Keharaman ini dikecualikan:
 
a) Bila bernajis dengan madzi, kecualiterhadap orang yang telah menjadi kebiasaanya bila menyucikannya tidak akan menyebabkan turunnya syahwat.
 
b) Penderita salis baul
 
c) Wanita yang mengalami istihadhah (darah selain haid).
 
d) Ditakutkan terjadi zina sedang pada saat tersebut tidak ada air untuk bersuci.
 
 
2. Bila kelamin suami bernajis maka terhadap istri tidak boleh memenuhi ajakan suami.
 
Demikian juga bila kelamin istri bernajis maka terhadap istri tidak boleh mentamkinkan (menyerahkan) dirinya kepada suami. Kecuali dalam kondisi ditakutkan terjadi zina dan tidakada air maka boleh jimak dengan ketentuan suami melakukan istinjak dengan batu dandengan air.
 
3. Tidak menyebabkan istri menjadi nusyuz.
 
Referensi:
 
1. Tuhfatul Muhtaj 1 hal 302 Dar.Fikr
 
ﻭﺃﻓﺘﻰ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﺤﺮﻣﺔ ﺟﻤﺎﻉ ﻣﻦ ﺗﻨﺠﺲ ﺫﻛﺮﻩ ﻗﺒﻞﻏﺴﻠﻪ ﺃﻱ ﺇﻥ ﻭﺟﺪ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺗﺨﺼﻴﺼﻪ ﺑﻐﻴﺮﺍﻟﺴﻠﺲ ﻟﺘﺼﺮﻳﺤﻬﻢ ﺑﺤﻞ ﻭﻁﺀ ﺍﻟﻤﺴﺘﺤﺎﺿﺔ ﻣﻊﺟﺮﻳﺎﻥ ﺩﻣﻬﺎ ﻭﻏﻴﺮ ﻣﻦ ﻳﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺗﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻳﻔﺘﺮﻩﻋﻦ ﺟﻤﺎﻉ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻴﻪ .ﺣﻮﺍﺷﻲ ﺍﻟﺸﺮﻭﺍﻧﻲ) ﻗﻮﻟﻪ ﺑﺤﺮﻣﺔ ﺟﻤﺎﻉ ﻣﻦ ﺗﻨﺠﺲ ﺫﻛﺮﻩ ﺇﻟﺦ ( ﺃﻱ ﺑﻐﻴﺮﺍﻟﻤﺬﻱ ﺇﻣﺎ ﺑﻪ ﻓﻼ ﻳﺤﺮﻡ ﺑﻞ ﻳﻌﻔﻰ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺣﻘﻪﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﺠﻤﺎﻉ ﺧﺎﺻﺔ ؛ ﻷﻥ ﻏﺴﻠﻪ ﻳﻔﺘﺮﻩ ﻭﻗﺪ ﻳﺘﻜﺮﺭﺫﻟﻚ ﻣﻨﻪ ﻓﻴﺸﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺃﻣﺎ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻓﻼﻳﻌﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﻓﻠﻮ ﺃﺻﺎﺏ ﺛﻮﺑﻪ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﻲ ﺍﻟﻤﺨﺘﻠﻂﺑﻪ ﻭﺟﺐ ﻏﺴﻠﻪ ﺛﻢ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺬﻱ ﻻ ﻓﺮﻕ ﻓﻴﻪ ﺑﻴﻦﻣﻦ ﺍﺑﺘﻠﻲ ﺑﻪ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻓﻜﻞ ﻣﻦ ﺣﺼﻞ ﻟﻪ ﺫﻟﻚ ﻛﺎﻥﺣﻜﻤﻪ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﻭﺇﻥ ﻧﺪﺭ ﺧﺮﻭﺟﻪ ﻭﻗﻀﻴﺔ ﻗﻮﻝ ﺍﺑﻦ ﺣﺞﻭﻏﻴﺮ ﻣﻦ ﻳﻌﻠﻢ ﺇﻟﺦ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺍﻋﺘﺎﺩ ﻋﺪﻡ ﻓﺘﻮﺭ ﺍﻟﺬﻛﺮﺑﻐﺴﻠﻪ ﻭﺇﻥ ﺗﻜﺮﺭ ﻻ ﻳﻌﻔﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺬﻱ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ ﻉ ﺵ .
 
2. Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal 234 maktabah Syamilah
 
ﻭﺃﻓﺘﻰ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺤﺮﻣﺔ ﺟﻤﺎﻉ ﻣﻦﺗﻨﺠﺲ ﺫﻛﺮﻩ ﻗﺒﻞ ﻏﺴﻠﻪ ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺗﺨﺼﻴﺼﻪ ﺑﻐﻴﺮﺍﻟﺴﻠﺲ ﻟﺘﺼﺮﻳﺤﻬﻢ ﺑﺤﻞ ﻭﻁﺀ ﺍﻟﻤﺴﺘﺤﺎﺿﺔ ﻣﻊﺟﺮﻳﺎﻥ ﺩﻣﻬﺎ .ﺍﻟﺸﺮﺡ) ﻗﻮﻟﻪ : ﻣﻦ ﺗﻨﺠﺲ ﺫﻛﺮﻩ ( ﺃﻱ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﻟﻤﺬﻱ ، ﺃﻣﺎ ﺑﻪﻓﻼ ﻳﺤﺮﻡ ﺑﻞ ﻳﻌﻔﻰ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔﻟﻠﺠﻤﺎﻉ ﺧﺎﺻﺔ ﻷﻥ ﻏﺴﻠﻪ ﻳﻔﺘﺮﻩ ، ﻭﻗﺪ ﻳﺘﻜﺮﺭ ﺫﻟﻚﻣﻨﻪ ﻓﻴﺸﻖ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻭﺃﻣﺎ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻓﻼﻳﻌﻔﻰ ﻋﻨﻪ ، ﻓﻠﻮ ﺃﺻﺎﺏ ﺛﻮﺑﻪ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﻲﺍﻟﻤﺨﺘﻠﻂ ﺑﻪ ﻭﺟﺐ ﻏﺴﻠﻪ ، ﺛﻢ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺬﻱ ﻻﻓﺮﻕ ﻓﻴﻪ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﺑﺘﻠﻲ ﺑﻪ ﻭﻏﻴﺮﻩ ، ﻓﻜﻞ ﻣﻦ ﺣﺼﻞ ﻟﻪﺫﻟﻚ ﻛﺎﻥ ﺣﻜﻤﻪ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﻭﺇﻥ ﻧﺪﺭ ﺧﺮﻭﺟﻪ .ﻭﻗﻀﻴﺔﻗﻮﻝ ﺣﺞ : ﺇﻥ ﻣﻦ ﻳﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺗﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻳﻔﺘﺮﻩ ﻋﻦﺟﻤﺎﻉ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻴﻪ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻏﺴﻞ ﺫﻛﺮﻩ ﻭﺃﻥ ﻣﻦﺍﻋﺘﺎﺩ ﻋﺪﻡ ﻓﺘﻮﺭ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺑﻐﺴﻠﻪ . ﻭﺇﻥ ﺗﻜﺮﺭ ﻻ ﻳﻌﻔﻰ ﻋﻦﺍﻟﻤﺬﻱ ﻓﻲ ﺣﻘﻪ .
 
3. Hasyiah Bujairimi `ala Khatib jilid 1 hal 334 Maktabah syamilah
 
ﻗﻮﻟﻪ : ) ﻭﻣﺬﻱ ( ﺑﺴﻜﻮﻥ ﺍﻟﺬﺍﻝ ﺍﻟﻤﻌﺠﻤﺔ ﺃﻱ ﻣﻊﺗﺨﻔﻴﻒ ﺍﻟﻴﺎﺀ ﻭﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﺬﺍﻝ ﻣﻊ ﺗﺨﻔﻴﻒ ﺍﻟﻴﺎﺀﻭﺗﺸﺪﻳﺪﻫﺎ ، ﻭﻣﺜﻠﻪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻮﺩﻱ . ﻧﻌﻢ ﻳﻌﻔﻰ ﻋﻨﻪﻟﻤﻦ ﺍﺑﺘﻠﻲ ﺑﻪ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﺠﻤﺎﻉ ، ﻭﺃﻓﺘﻰ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔﺍﻟﺮﻣﻠﻲ ﺑﺤﺮﻣﺔ ﺟﻤﺎﻉ ﻣﻦ ﺗﻨﺠﺲ ﺫﻛﺮﻩ ﻗﺒﻞ ﻏﺴﻠﻪ ،ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺗﺨﺼﻴﺼﻪ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﻟﺴﻠﺲ ، ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻟﻢﺗﺴﺘﻨﺞ ﺃﻭ ﺗﻐﺴﻞ ﻓﺮﺟﻬﺎ ﻓﻴﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺗﻤﻜﻴﻦ ﺍﻟﺰﻭﺝﻗﺒﻞ ﻏﺴﻠﻪ ، ﻭﻛﺬﺍ ﻫﻮ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﺴﺘﺠﻤﺮﺍ ﺑﺎﻟﺤﺠﺮﻓﻴﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻤﺎﻋﻬﺎ ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺗﻤﻜﻴﻨﻪ ، ﻭﻻ ﺗﺼﻴﺮﺑﺎﻻﻣﺘﻨﺎﻉ ﻧﺎﺷﺰﺓ ، ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻓﻠﻮ ﻓﻘﺪ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻣﺘﻨﻊ ﻋﻠﻴﻪﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ، ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻘﺪﻩ ﻋﺬﺭﺍ ﻓﻲ ﺟﻮﺍﺯﻩ . ﻧﻌﻢ ﺇﻥﺧﺎﻑ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﺍﺗﺠﻪ ﺃﻧﻪ ﻋﺬﺭ ﻓﻴﺠﻮﺯ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﺳﻮﺍﺀ ﺃﻛﺎﻥﺍﻟﻤﺴﺘﺠﻤﺮ ﺑﺎﻟﺤﺠﺮ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ، ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎﺍﻟﺘﻤﻜﻴﻦ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻓﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﺴﺘﺠﻤﺮﺍﺑﺎﻟﺤﺠﺮ .ﻭﻫﻲ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ . ﺍ ﻫـ . ﻉ ﺵ ﻋﻠﻰ ﻡ ﺭ ﻣﻊ ﺯﻳﺎﺩﺓﻣﻦ ﻕ ﻝ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺷﺮﻑ : ﻟﻮ ﻓﻘﺪ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺟﺎﺯ ﻟﻪﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﺑﺪﻭﻥ ﻏﺴﻞ ﺍﻟﺬﻛﺮ .
 
 
LINK DISKUSI: https://www.facebook.com/groups/kiss.donk/permalink/583958844975207/

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © KAJIAN ISLAM SEPUTAR SEKS - DONK 2014-2015
Ikuti Kami di Facebook & Fans Page