0129.. HUKUM MEJIMA` ISTRI YG SUDAH SELESAI HAID TAPI BELUM MANDI BESAR

PERTANYAAN

Haby Rohman Nda'Al-Afghanni
mw nanya nihberjima' dengan istri yg sudah kelar haidnya tapi blum mandi hadats..gmn hukumnya bro sis?

JAWABAN

Mbah Ceméng

khilaf

Ana Uhibbuka Fillah

 ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ : ﺷﺮﺡ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﺍﻝﻣﺆﻟﻒ : ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺧﻠﻒ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺑﻦ ﺑﻄﺎﻝ ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﻘﺮﻃﺒﻴﻜِﺖﺏﺍَ ﺍﻟْﺤَﻴْﺾ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ) ﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻥَﻙَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﺤِﻴﺾِ ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺃَﺫًﻯ ) ﺇِﻟَﻰ : ) ﺍﻟْﻤُﺘَﻄَﻪَﻦﻳِﺭِّ ( ] ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 222 [ . ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻰ ﺗﺄﻭﻳﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ، ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻃﺎﺋﻔﺔ : ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻭﻁﺀ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ، ﻭﺇﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﺩﻣﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ، ﺭﻭﻯ ﻫﺬﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ، ﻭﺍﻟﻨﺨﻌﻰ ، ﻭﻣﻜﺤﻮﻝ ، ﻭﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ ، ﻭﻋﻜﺮﻣﺔ ، ﻭﻣﺠﺎﻫﺪ ، ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﻣﺎﻟﻚ ، ﻭﺍﻟﻠﻴﺚ ، ﻭﺍﻟﺜﻮﺭﻯ ، ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ، ﻭﺃﺣﻤﺪ ، ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ ، ﻭﺃﺑﻰ ﺛﻮﺭ . ﻭﺍﺧﺘﻠﻒ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻰ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻭﻃﺆﻫﺎ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﺩﻣﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺃﻡ ﻻ ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ ، ﻭﺍﻟﻠﻴﺚ ، ﻭﺍﻟﺜﻮﺭﻯ ، ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ، ﻭﺃﺣﻤﺪ ، ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ ، ﻭﺃﺑﻮ ﺛﻮﺭ : ﻻ ﺗﻮﻃﺄ ﺣﺘﻰ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ، ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺸﻌﺒﻰ ، ﻭﻣﺠﺎﻫﺪ ، ﻭﺍﻟﺤﺴﻦ ، ﻭﻣﻜﺤﻮﻝ ، ﻭﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ ، ﻭﻋﻜﺮﻣﺔ . ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ : ﺇﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﺩﻣﻬﺎ ﺑﻌﺪ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﻳﺎﻡ ، ﺍﻟﺬﻯ ﻫﻮ ﻋﻨﺪﻩ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﺤﻴﺾ ، ﺟﺎﺯ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﻄﺄﻫﺎ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ ، ﻭﺇﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﺩﻣﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻌﺸﺮﺓ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﺣﺘﻰ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺃﻭ ﻳﻤﺮ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻗﺖ ﺻﻼﺓ ، ﻷﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺗﺠﺐ ﻋﻨﺪﻩ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻮﻗﺖ ، ﻓﺈﺫﺍ ﻣﻀﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﻭﺟﺒﺖ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻗﺪ ﺯﺍﻝ ، ﻷﻥ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺻﻼﺓ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻷﻭﺯﺍﻋﻰ : ﺇﻥ ﻏﺴﻠﺖ ﻓﺮﺟﻬﺎ ﺟﺎﺯ ﻟﺰﻭﺟﻬﺎ ﻭﻃﺆﻫﺎ ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻐﺴﻠﻪ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ، ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻟﺖ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ، ﻭﺭﻭﻯ ﻣﺜﻠﻪ ﻋﻦ ﻋﻄﺎﺀ ، ﻭﻃﺎﻭﺱ ، ﻭﻗﺘﺎﺩﺓ . ﻭﺍﺣﻨﺞ ﺃﻫﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻘﺎﻟﺔ ﺑﻘﻮﻟﻪ : ) ﺣﺘﻰ ﻳﻄﻬﺮﻥ ( ] ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : [ 222 ﺃﻯ ﺣﺘﻰ ﻳﻨﻘﻄﻊ ﺩﻣﻬﻦ ، ﻓﺠﻌﻞ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻏﺎﻳﺔ ﻣﻨﻊ ﻗﺮﺑﻬﺎ ﺍﻧﻘﻄﺎﻉ ﺩﻣﻬﺎ ، ﻭﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻗﺪ ﺣﻞ ﻟﻬﺎ ﺑﺎﻧﻘﻄﺎﻉ ﺩﻣﻬﺎ ، ﻓﻮﺟﺐ ﺃﻥ ﻳﺤﻞ ﻭﻃﺆﻫﺎ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ ، ﻛﺎﻟﺠﻨﺐ ﻳﺠﻮﺯ ﻣﺠﺎﻣﻌﺘﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ ، ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﺑﻌﺪ ﺍﻧﻘﻄﺎﻉ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻃﺎﻫﺮًﺍ ﺃﻭ ﺣﺎﺋﻀًﺎ ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺣﺎﺋﻀًﺎ ﻓﺎﻟﻐﺴﻞ ﺳﺎﻗﻂ ﻋﻨﻬﺎ ، ﻭﻓﻰ ﺍﺗﻔﺎﻗﻬﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺍﺟﺐ ﺑﺎﻧﻘﻄﺎﻉ ﺍﻟﺪﻡ ﺩﻟﻴﻞ ﺃﻧﻬﺎ ﻗﺪ ﻃﻬﺮﺕ ﻣﻦ ﺣﻴﻀﺘﻬﺎ ، ﻭﺍﻟﻄﺎﻫﺮ ﺟﺎﺋﺰ ﻭﻃﺆﻫﺎ ، ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ) ﻓﺈﺫﺍ ﺗﻄﻬﺮﻥ ( ] ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 222 [ ﺇﺑﺎﺣﺔ ﺛﺎﻧﻴﺔ ، ﻭﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﻛﻼﻡ ﻏﻴﺮ ﺍﻷﻭﻝ ، ﻷﻥ ﺍﻟﻄﻬﺮ ﺷﻰﺀ ﻭﺍﻟﺘﻄﻬﻴﺮ ﻏﻴﺮﻩ ، ﻣﺜﺎﻝ ﺫﻟﻚ ، ﻟﻮ ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﺻﺎﺋﻤًﺎ ﻗﺎﻝ ﻟﺮﺟﻞ : ﻻ ﺗﻜﻠﻤﻨﻰ ﺣﺘﻰ ﺃﻓﻄﺮ ، ﻓﺈﺫﺍ ﺻﻠﻴﺖ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻛﻠﻤﻨﻰ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻭﻗﻊ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﺞ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺨﺎﻃﺒﺔ ﻓﻰ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺼﻮﻡ ، ﻷﻥ ﻏﺎﻳﺔ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﺞ ﻛﺎﻧﺖ ﺇﻟﻰ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ، ﺛﻢ ﺇﺑﺎﺣﺔ ﺃﻥ ﻳﻜﻠﻤﻪ ﺑﻌﺪ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻭﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻰ ﺍﻟﻤﻐﺮﺑﻦ ﻛﻤﺎ ﺃﺑﻴﺢ ﻭﻁﺀ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻄﻬﺮ ، ﻭﺑﻌﺪ ﺍﻟﺘﻄﻬﻴﺮ ﺗﺄﻛﻴﺪًﺍ ﻟﻠﺘﺤﻠﻴﻞ ، ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻗﻮﻟﻪ : ) ﻳﺤﺐ ﺍﻟﺘﻮﺍﺑﻴﻦ ﻭﻳﺤﺐ ﺍﻟﻤﺘﻄﻬﺮﻳﻦ ( ] ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 222 [ ﺩﻻﻟﺔ ﺃﻥ ﺍﻟﺬﻯ ﻳﺄﺗﻰ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺗﻨﺘﻈﻒ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻛﻤﻦ ﺗﻮﺿﺄ ﺛﻼﺛًﺎ ﺛﻼﺛًﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺣﻤﺪ ﻣﻤﻦ ﺗﻮﺿﺄ ﻣﺮﺓ ﻣﺮﺓ .. ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ - ) ﺝ 3 / ﺹ (90 ﻭﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﻻﻳﺠﻮﺯ ﻭﻃﺆﻫﺎ ﺍﺗﻔﺎﻗﺎ. ﻭﺃﻳﻀﺎ ﻓﺈﻥ ﻣﺎ ﻗﺎﻟﻮﻩ ﻳﻘﺘﻀﻲﺇﺑﺎﺣﺔ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﻋﻨﺪ ﺍﻧﻘﻄﺎﻉ ﺍﻟﺪﻡ ﻟﻸﻛﺜﺮ ﻭﻣﺎ ﻗﻠﻨﺎﻩﻳﻘﺘﻀﻲ ﺍﻟﺤﻈﺮ

 jawabannya khilaf menurut ibaroh di atas ada yg mengharamkan ada yg ngebolehin.

ﻭﺇﺫﺍ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻣﺎ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺍﻟﺤﻈﺮ ﻭﻣﺎ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺍﻹﺑﺎﺣﺔﻭﻳﻐﻠﺐ ﺑﺎﻋﺜﺎﻫﻤﺎ ﻏﻠﺐ ﺑﺎﻋﺚ ﺍﻟﺤﻈﺮ ، ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻲﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﺧﺘﻴﻦ ﺑﻤﻠﻚ ﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ،ﺃﺣﻠﺘﻬﻤﺎ ﺁﻳﺔ ﻭﺣﺮﻣﺘﻬﻤﺎ ﺃﺧﺮﻯ ، ﻭﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﺃﻭﻟﻰ . ﻭﺍﻟﻠﻪﺃﻋﻠﻢ .

Bila terjadi perselisihan antara hukum melarang dan hukum membolehkan dan pendorong keduanya ghalib maka dimenangkan pendorong hukum pelarangan seperti yang dikatakan Sayyidina Ali dan Utsman ra saat memutuskan masalah mengumpulkan dua saudara wanita dengan penguasaan tangan kanan (keduanya menjadi sahaya), satu ayat menghalalkannya diayat lain melarangnya maka mengambil keputusan haram lebih baik.
Al-Jammi’Li Ahkaam al-Quraan III/90

Dalam pernyataan lainnya :

ﻭﻧﺤﻦ ﻧﺤﻤﻞ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﻨﻰ ، ﻓﻨﺤﻤﻞﺍﻟﻤﺨﻔﻔﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﺩﻣﻬﺎ ﻟﻸﻗﻞ ، ﻓﺈﻧﺎ ﻻ ﻧﺠﻮﺯﻭﻃﺄﻫﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﻐﺘﺴﻞ ، ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﺆﻣﻦ ﻋﻮﺩﻩ

Dan kami membawa masing-masing dari kedua lafadz YATHHURNA dan TATHOHHARNA pada maknanya masing-masing...Sesungguhnya kami tidak membolehkan menggaulinya hingga ia mandi terlebih dahulu Karena kami tidak merasa aman akan kembalinya darah haid

Dalam Tafsiir al-Baghowy dijelaskan :

ﻭﺃﻛﺜﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺃﻭﺗﺘﻴﻤﻢ ﻋﻨﺪ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻤﺎﺀ، ﻷﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻖ ﺟﻮﺍﺯﻭﻃﺌﻬﺎ ﺑﺸﺮﻃﻴﻦ: /36ﺃ ﺑﺎﻧﻘﻄﺎﻉ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﺍﻟﻐﺴﻞ، ﻓﻘﺎﻝ} ﺣﺘﻰ ﻳﻄﻬﺮﻥ { ﻳﻌﻨﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﺾ } ﻓﺈﺫﺍ ﺗﻄﻬﺮﻥ {ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻏﺘﺴﻠﻦ } ﻓﺄﺗﻮﻫﻦ { ﻭﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﻳﻄﻬﺮﻥ ﺑﺎﻟﺘﺸﺪﻳﺪﻓﺎﻟﻤﺮﺍﺩ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ: ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻛﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ " ﻭﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢﺟﻨﺒﺎ ﻓﺎﻃﻬﺮﻭﺍ )" -6 ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ ( ﺃﻱ ﻓﺎﻏﺘﺴﻠﻮﺍ ﻓﺪﻝ ﻋﻠﻰﺃﻥ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻻ ﻳﺤﻞ ﺍﻟﻮﻁﺀ .

Mayoritas dan kebanyakan Ahl Ilmu menghukumi haram menggauli istri saat terputus darah haidnya sebelum ia menunaikan mandi atau tayammum saat tidak terdapatnya air, karena Allah ta’ala menggantungkan kelegalan menggauli istri yang haid dengan dua syarat “Berhenti darahnya dan mandi”

Allah menyatakannya dengan “Hingga mereka suci” artinya putus dari haid dan “apabila mereka telah bersuci”artinya bersuci adalah mandi maka bila telah terpenuhi dua syarat tersebut datangilah mereka.Bagi orang yang membaca ayat ‘HATTAA YATHHURN’ dengan mentasydid nunnya ‘HATTAA YATHHURONNA’ arti suci adalah mandi sebagaimana firman Allah lainnya ‘Bila kalian janabat maka bersucilah’,dengan demikian sebelum dilaksanakannya mandi tidak dihalalkan menggaulinya.

Tafsiir al-Baghowy I/259

Sedang kalangan ulama Fiqh dalam memutuskan masalah ini seperti uraian dalam komen saya pertama “Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat haram” sedang Abu Hanafi dari Hanafiyyah berpendapat “Biladarah telah terputus pada masa lebih banyak ketimbang masa haidnya boleh menggaulinya namun bila kurang masanya dari masa haidnya maka tidak boleh hingga ia menjalani mandi

”Berikut petikan dari beberapa redaksi lintas madzhab dalam masalah ini :

ﻣﺴﺄﻟﺔ : ﻗﺎﻝ : ﻓﺎﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﺩﻣﻬﺎ ﻓﻼ ﺗﻮﻃﺄ ﺣﺘﻰﺗﻐﺘﺴﻞ ﻭﺟﻤﻞﺗﻪ ﺃﻥ ﻭﻁﺀ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺣﺮﺍﻡﻭﺍﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﺩﻣﻬﺎ ﻓﻲ ﻗﻮﻝ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦﺍﻟﻤﻨﺬﺭ : ﻫﺬﺍ ﻛﺎﻹﺟﻤﺎﻉ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪﺍﻟﻤﺮﻭﺫﻱ : ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺧﻼﻓﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ :ﺃﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﺍﻟﺪﻡ ﻷﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﺣﻞ ﻭﻃﺆﻫﺎ ﻭﺍﻥﺍﻧﻘﻄﻊ ﻟﺪﻭﻥ ﺫﻟﻚ ﻟﻢ ﻳﺒﺢ ﺣﺘﻰ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺃﻭ ﺗﺘﻴﻤﻢ ﺃﻭﻳﻤﻀﻲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻗﺖ ﺻﻼﺓ ﻷﻥ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻻ ﻳﻤﻨﻊﻣﻦ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﺑﺎﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﻭﻟﻨﺎ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : } ﻭﻻﺗﻘﺮﺑﻮﻫﻦ ﺣﺘﻰ ﻳﻄﻬﺮﻥ ﻓﺈﺫﺍ ﺗﻄﻬﺮﻥ ﻓﺎﺗﻮﻫﻦ ﻣﻦ ﺣﻴﺚﺃﻣﺮﻛﻢ ﺍﻟﻠﻪ { ﻳﻌﻨﻲ ﺇﺫﺍ ﺍﻏﺘﺴﻞ ﻫﻜﺬﺍ ﻓﺴﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱﻭﻷﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ : } ﻭﻳﺤﺐﺍﻟﻤﺘﻄﻬﺮﻳﻦ { ﻓﺄﺛﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻴﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻓﻌﻞ ﻣﻨﻬﻢﺃﺛﻨﻰ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﻪ ﻭﻓﻌﻠﻬﻢ ﻫﻮ ﺍﻻﻏﺘﺴﺎﻝ ﺩﻭﻥ ﺍﻧﻘﻄﺎﻉﺍﻟﺪﻡ ﻓﺸﺮﻁ ﻷﺑﺎﺣﺔ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﺷﺮﻃﻴﻦ ﺍﻧﻘﻄﺎﻉ ﺍﻟﺪﻡﻭﺍﻻﻏﺘﺴﺎﻝ ﻓﻼ ﻳﺒﺎﺡ ﺇﻻ ﺑﻬﻤﺎ

MASALAH
“Saat darah haidnya telah berhenti maka haram menggaulinya hingga ia menjalani mandi

”Sesungguhnya menggauli istri yang haid sebelum ia mandi adalah haram meskipun darahnya telah berhenti, inipendapat mayoritas Ahl Ilmu.

Ibn al-Mundzir berkata “Masalah ini seperti terjadi kesepakatan dari kalangan ulama”

Ahmad Bin Muhammadal-marwadzi berkata “Aku tidak melihat dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat”

Sedang Abu Hanifah (Hanafiyyah) berkata “Bila darah telah terputus pada masa lebih banyak ketimbang masa haidnya boleh menggaulinya namun bila kurang masanya dari masa haidnya maka tidak boleh hingga ia menjalani mandi atau tayammum atau telah berlalu waktu shalat karena waktu kewajiban mandi tidak terhalang dari persetubuhan sebabjanabat.Allah berfirman :“Oleh sebab itu hendaklahkamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka,sebelum mereka suci. Apabila mereka telah bersuci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu”
(QS.2:222)

Artinya bersuci adalah saat mereka telah mandi, demikian penafsiran Ibn Abbas ra.Dan karena Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikandiri.” (QS. 2:222).

Lihatlah dalam ayat ini Allah memuji mereka,pujian Allah berarti atas perbuatan yang telah mereka kerjakan yakni mandi bukan atas perbuatan yang mereka tidak kerjakan yakni terputusnya darah haid (karena yang demikian bersifat alami).

Dengan demikian diperbolehkannya menggauli istri yang haid bila telah terpenuhi dua syarat “Berhenti haidnya dan telah mandi” dan tidak diperbolehkan tanpa keduanya.

Al-Mugni I/387

Ibnu Al-Ihsany

Waalaikumussalam

=================

Ianathuth thalibin juz 1, hal. 71-72


ويحرم به ما يحرم بالجنابة ومباشرة ما بين سرتها وركبتها ، وقيل لا يحرم غير الوطء ، واختاره النووي في التحقيق لخبر المسلم ؛ «اصنعوا كل شيء إلا النكاح» وإذا انقطع دمها حل لها قبل الغسل صوم لا وطء ، خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي رحمه الله

==============

{قوله لا وطء}أي أما هو فيحرم ، لقوله تعالى ؛ «ولا تقربوهن حتى يطهرن» وقد قرئ بالتشديد والتخفيف ، أما قراءة التشديد صريحة فيما ذكر ، وأما التخفيف فإن كان المراد به أيضا الاغتسال كما قال به ابن عباس وجماعة لقرينة قوله تعالى ؛ «فإذا تطهرن» فواضح ، وإن كان المراد به انقطاع الحيض فقد ذكر بعده شرطا آخر وهو قوله تعالى ؛ «فإذا تطهرن» فلا بد منهما معا اهـ اقناع

{قوله خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي}أي من حل الوطء أيضا بالانقطاع

Hukum perempuan yang sudah terputus haidnya melakukan hubungan badan:

Khilaf:

a. Tidak boleh, (haram) berhubungan badan sebelum mandi besar. jadi harus mandi dulu sebelum berhubungan badan sesuai dalil dalam ayat al-qur'an (lihat keterangan di atas pada قوله لا وطء,

b. Boleh ketika haid sudah terputus menurut Imam As-Suyuthi. Jadi menurut pendapat kedua boleh berhubungan badan ketika sudah terputus haidnya dan mandinya dijadikan satu (antara haid dan jinabat).

Catatan: Terputusnya haid dengan cara memeriksa darah haid apakah masih keluar atau tidak dengan memasukkan kapas ke farji. Jika bersih maka sudah terputus haidnya. Namun jika masih terdapat kotor pada warna kapas, maka masih dalam keadaan haid.
Wallohu a'lam.

LINK DISKUSI
https://www.facebook.com/groups/kiss.donk/permalink/576551769049248/

https://www.facebook.com/groups/545259458845146?view=permalink&id=623099554394469&_rdr&refid=18#624207777616980

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © KAJIAN ISLAM SEPUTAR SEKS - DONK 2014-2015
Ikuti Kami di Facebook & Fans Page