0132.. PENGERTIAN DZIHAR

PERTANYAAN

ap penjelasan dhihar sesungguhx?tlg ksh ibaorot n misalx jg thank u,di inbok ya tmn2


JAWABAN

Ana Uhibbuka Fillah 

Zihar : menurut bahasa diambil dari
lafadz “al-Dzohru” yang artinya punggung.
Sedangkan menurut syara adalah

ﺗﺸﺒﻴﻪ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺒﺎﺋﻦ ﺑﺄﻧﺜﻰ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﺣﻼ ﻟﻪ

)ﺑﺠﻮﺭﻱ : (158

Artinya : Suami menyerupai istrinya yang tidak
ditalaq bain dengan perempuan yang tidak
halal dia nikahi.

Misalnya suami mengatakan

ﺃﻧﺖ ﻛﻈﻬﺮ ﺍﻣﻲ ﺑﺪﻭﻥ ﻋﻠﻰ ) ﺍﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ : ﺝ 4.
ﺹ ( 36.

Artinya: Kamu seperti punggung ibuku
walau tidak disertai kata “atas aku”

Adapun di dalam kitab Bajuri jilid III
halaman 159 dikatakan

ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻋﻠﻲّ ﻟﻴﺲ ﻗﻴﺪﺍ ﻓﻬﻮ ﺻﺮﻳﺢ ﻭﻟﻮ ﺑﺪﻭﻥ ﻋﻠﻰ
ﻭﻣﺜﻠﻬﺎ ﻣﻨﻲ ﺍﻭ ﻣﻌﻲ ﺍﻭ ﻋﻨﺪﻱ

Artinya : dan perkataannya “atasku’ bukan
sebagai qayyid, dia sharih walau tanpa
menggunakan kata “atasku” dan seperti
“dariku” atau kata “bersamaku” atau kata “di
sisiku”

Rukun Zihar
Rukun zihar itu ada empat yaitu :
1. Suami yang menzihar
2. Istri yang dizihar
3. Yang diserupakan dengan istri
4. Shigat/ucapan zihar itu.

Syarat yang menzihar itu adalah
suami yang saj thalaqnya, maka tidak sah
zihar dari laki-laki yang bukan suami
perempuan yang dizihar, tidak jatuh
zihar dari suami yang belum baligh, tidak
sah zihar dari suami yang gila, tidak sah
zihar dari suami yang dipaksa.
Syarat istri yang dizihar itu adalah dia
masih menjadi istri sah dari suami yang
sah menziharnya, sekalipun di saat dia
menunggu iddah dari thalaq raj’inya,
tidak sah zihar dari istri yang sudah
ditalaq bain kubro maupun sugro yang
diserupakan itu salah satu anggotanya.
Adapun syarat perempuan yang
dijadikan perbandingan itu semua
perempuan yang haram untuk dinikahi
selamanya seperti ibu, saudari, anak, bibi
(baik dari ibu atau dari bapak), nenek ke
atas. Adapun yang tidak haram selamanya
seperti ipar tidak termasuk haram
selamnya.

Di dalam kitab Bajuri halaman 158
dikatakan

ﻭﺷﺮﻁ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺸﺒﻪ ﺑﻪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﻞ ﺃﻧﺜﻰ ﺃﻭ ﺟﺰﺀ
ﺃﻧﺜﻰ ﻣﺤﺮﻡ ﺑﻨﺴﺐ ﺍﻭ ﺭﺿﺎﻉ ﺍﻭ ﻣﺼﺎﻫﺮﺓ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﺣﻼ
ﻟﻪ ﻗﺒﻞ ﻛﺄﻣﺔ ﻭﺑﻨﺘﻪ ﻭﺃﺧﺘﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺴﺐ ﻭﻣﺮﺿﻌﺔ ﺃﺑﻴﻪ
ﺍﻭ ﺍﻣﻪ ﻭﺯﻭﺟﺔ ﺃﺑﻴﻪ ﺍﻟﺘﻲ ﻧﻜﺤﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﺍﻭ ﻣﻌﻬﺎ
ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻈﻬﺮ. ﻓﺨﺮﺝ ﺑﺎﻷﻧﺜﻰ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﺨﻨﺜﻰ ﻷﻥ ﻛﻼ
ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﺤﻼ ﻟﻠﺘﻤﺘﻊ. ﻭﺑﺎﻟﻤﺤﺮﻡ ﺃﺧﺖ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻷﻥ
ﺗﺤﺮﻳﻤﻬﺎ ﻣﻦ ﺟﻬﺔ ﺍﻟﺠﻤﻊ. ﻭﺯﻭﺟﺎﺕ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻷﻥ ﺗﺤﺮﻳﻤﻬﻦ ﻟﻴﺲ ﻟﻠﺤﺮﻣﻴﺔ ﺑﻞ ﻟﺸﺮﻓﻪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Artinya : disyaratkan pada perempuan yang
dijadikan penyerupaan itu, bahwa adalah
semua perempuan atau bagain perempuan
yang diharamkan bagi suami menikahinya baik
dengan jalur nasab maupun dengan sebab
susuan atau dengan sebab perkawinan yang
tidak halal baginya sebelumnya, seperti ibu si
suami, anak perempuan suami, saudari suami
dan nasab maupun dari susuan bapaknya atau
ibunya dan istri bapaknya yang dia nikahi
sebelum suami itu lahir atau serentak dengan
kelahirannya pada apa apa yang ia ziharkan
dan saudara susuan, jika saudari susuan itu
lahir setelah menysuinya itu si suami atau
bersamaan dengannya pada apa yang ia
ziharkanmaka keluar dari itu ( ﺃﻧﺜﻰ ) adalah
laki-laki atau yang banci karena lai-laki atau
yang banci tidak bisa dijadikan teman
bersenag-senang oleh laki-laki pada umumnya.
Dikeluarkan juga dengan kata ( ﻣﺤﻤﺮ ) itu
adalah perempuan yang menjadi saudari istri
dari laki-laki yang menzihar istri itu (artinya
kalau seorang istri diserupakan dengan
adiknya sendiri atau dengan kata lain adik ipar
permpuan dari laki-laki yang menzihar itu)
tidaklah dinamakan zihar. Karena
pengharamannya tidak selamanya, haramnya
kalau dimadu dengan saudarinya sendiri.
Demikian juga istri-istri nabi tidak dikatakan
zihar jika seorang umat meyamakan istrinya
dengan salah seorang istri nabi, bila tidak ada
sebab haram yang lain.

ﻭﺑﻘﻮﻟﻨﺎ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﺣﻼﻟﻪ ﻗﺒﻞ ﺯﻭﺟﺔ ﺍﺑﻨﻪ ﻭﺯﻭﺟﺔ ﺃﺑﻴﻪ
ﺍﻟﺘﻲ ﻧﻜﺤﻬﺎ ﺑﻌﺪ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﻭﺃﺧﺘﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﺍﻟﺘﻲ
ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻮﺟﻮﺩﺓ ﻗﺒﻞ ﺍﺭﺿﺎﻋﻪ ﻓﻼ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﺑﻬﺎ
ﻇﻬﺎﺭﺍ ﻷﻧﻬﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺣﻼ ﻟﻪ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻃﺮﺍﺀ ﺗﺤﺮﻳﻤﻬﺎ

Artinya :
Dan dikeluarkan juga dari perkataan kami,
tidak halal baginya sebelumnya istri anaknya
dan istri bapaknya yang dia nikahi setelah
kelahiran suami yang menzihar itu, dan
saudari susuannya yang lahir sebelum
menyusuinya itu si suami, msks
penyerupaannya tidak temasuk zihar, karena
dia halal bagi si suami dan haram nikahnya
tidak pernah seperti haramnya ibu. Dan syarat
dari ucapan yang digunakan menzihar itu
dapat dipahami, baik bahasa lisan, tulisan
atau isyarat, baik syareh maupun kinayah


 jika tujuannya memuji,dan tidak ada niat zihar ya ga termasuklah

ibaroh

ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﻭﺃﺩﻟﺘﻪ ) – ﺝ / 9 ﺹ (564

ﻭﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ (1) : ﺃﻥ ﺍﻟﺼﺮﻳﺢ: ﻣﺎ ﺗﻀﻤﻦ ﺫﻛﺮ
ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺃﻭ ﻋﻀﻮ ﻻ ﻳﺬﻛﺮ ﻓﻲ ﻣﻌﺮﺽ ﺍﻟﺘﻜﺮﻳﻢ، ﻛﺄﻥ
ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﺰﻭﺟﺘﻪ: ) ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﺃﻭ ﻣﻨﻲ ﺃﻭ ﻣﻌﻲ ﺃﻭ
ﻋﻨﺪﻱ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ ( ﻭﻛﺬﺍ ﺇﻥ ﻗﺎﻝ: ) ﺃﻧﺖ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ (
ﺑﺤﺬﻑ ﺍﻟﺼﻠﺔ ﺃﻱ )ﻋﻠﻲ( ﻭﻧﺤﻮﻩ، ﻳﻜﻮﻥ ﺻﺮﻳﺤﺎً ﻋﻠﻰ
ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ، ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺼﺮﻳﺢ ﻗﻮﻟﻪ : )ﺟﺴﻤﻚ ﺃﻭ ﺑﺪﻧﻚ ﺃﻭ
ﻧﻔﺴﻚ ﻛﺒﺪﻥ ﺃﻣﻲ ﺃﻭ ﺟﺴﻤﻬﺎ ﺃﻭ ﺟﻤﻠﺘﻬﺎ( ﻟﺘﻀﻤﻨﻪ
ﺍﻟﻈﻬﺮ. ﻭﻣﻨﻪ : ) ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﻛﻴﺪ ﺃﻣﻲ ﺃﻭ ﺑﻄﻨﻬﺎ ﺃﻭ
ﺻﺪﺭﻫﺎ، ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ( ﻣﻦ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﺗﺬﻛﺮ ﻓﻲ
ﻣﻌﺮﺽ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔ ﻭﺍﻹﻋﺰﺍﺯ ﻣﻤﺎ ﺳﻮﻯ ﺍﻟﻈﻬﺮ؛ ﻷﻧﻪ ﻋﻀﻮ
ﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻠﺬﺫ ﺑﻪ، ﻓﻜﺎﻥ ﻛﺎﻟﻈﻬﺮ.
ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺼﺮﻳﺢ: ﺫﻛﺮ ﺟﺰﺀ ﺷﺎﺋﻊ ﻣﺜﻞ ﻧﺼﻔﻚ ﺃﻭ ﺭﺑﻌﻚ،
ﻭﻣﻨﻪ ﺫﻛﺮ ﺃﺣﺪ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﻣﺜﻞ: ﺭﺃﺳﻚ ﺃﻭ ﻇﻬﺮﻙ ﺃﻭ ﻳﺪﻙ
ﺃﻭ ﺭﺟﻠﻚ، ﺃﻭ ﺑﺪﻧﻚ ﺃﻭ ﺟﻠﺪﻙ ﺃﻭ ﺷﻌﺮﻙ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ.
ﻭﺍﻟﻜﻨﺎﻳﺔ: ﺃﻥ ﻳﺬﻛﺮ ﻋﻀﻮﺍً ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔ، ﻣﺜﻞ ﺃﻧﺖ
ﻋﻠﻲ ﻛﻌﻴﻦ ﺃﻭ ﺭﺃﺱ ﺃﻣﻲ ﻭﻧﺤﻮﻩ. ﺃﻭ ﺃﻧﺖ ﻛﺄﻣﻲ ﺃﻭ
ﺭﻭﺣﻬﺎ ﺃﻭ ﻭﺟﻬﻬﺎ، ﻓﺈﻥ ﻗﺼﺪ ﻇﻬﺎﺭﺍً، ﺃﻱ ﻧﻮﻯ ﺃﻧﻬﺎ ﻛﻈﻬﺮ
ﺃﻣﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻓﻬﻮ ﻇﻬﺎﺭ، ﻭﺇﻥ ﻗﺼﺪ ﻛﺮﺍﻣﺔ ﻭﻟﻢ
ﻳﻘﺼﺪ ﺷﻴﺌﺎً، ﻓﻼ ﻳﻜﻮﻥ ﻇﻬﺎﺭﺍً؛ ﻷﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻟﻔﺎﻅ
ﺗﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔ ﻭﺍﻹﻋﺰﺍﺯ

Jika suami mengatakan kepada istrinya, ‘Kamu seperti ibuku’ sementara dia niatkan untuk dzihar maka statusnya dzihar. Jika tidak disertai niat apapun, tidak diniatkan untuk talak atau dzihar maka tidak dihukumi dzihar.

 ini sementara aku ambilkan ibaroh yg di PISS-KTB;

>> Khodim Piss-ktb II
HASIL KEPUTUSAN BAHSUL MASAIL KUBRA XX
LEMBAGA PESANTREN AL-KHOZINY

BUDURAN SIDOARJO 2008
Di sebuah rumah Mungil, hiduplah sepasang
suami istri yang hidup bahagia, terlebih
suami. Dia merasa istrinya adalah makhluk
tuhan yang paling cantik di dunia yang pernah
dia jumpai. Dan kebetulan paras sang istri ada
kemiripan dengan ibunya yang konon adalah
bunga desa sewaktu masih muda. Dan tidak
jarang si suami melontarkan pujian-pujian
karena kekagumannya atas sang istri. Di
antara pujiannya tersebut muncul kata-kata:
“yang, jika saya amati, wajahmu mirip ibuku”.

Pertanyaan:

a. Apakah perkataan sang suami itu termasuk
zdihar ? Padahal sang suami mengatakan hal
tersebut hanya karena murni memuji dan
mengagumi kecantikan sang istri.

b. Sebatas manakah penyerupaan yang bisa
dikatagorikan dzihar (Musabbah Bih/ anggota
yang diserupakan)?
PP Assunniyah Kencong


Jawaban: a. Tidak termasuk. Karena terdapat unsur karomah )memuliakan, memuji) kecuali ada qosdlu atau niat dzihar

ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﻭﺃﺩﻟﺘﻪ ) – ﺝ / 9 ﺹ (564

ﻭﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ (1) : ﺃﻥ ﺍﻟﺼﺮﻳﺢ: ﻣﺎ ﺗﻀﻤﻦ ﺫﻛﺮ
ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺃﻭ ﻋﻀﻮ ﻻ ﻳﺬﻛﺮ ﻓﻲ ﻣﻌﺮﺽ ﺍﻟﺘﻜﺮﻳﻢ، ﻛﺄﻥ

ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﺰﻭﺟﺘﻪ: ) ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﺃﻭ ﻣﻨﻲ ﺃﻭ ﻣﻌﻲ ﺃﻭ
ﻋﻨﺪﻱ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ ( ﻭﻛﺬﺍ ﺇﻥ ﻗﺎﻝ: ) ﺃﻧﺖ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ (
ﺑﺤﺬﻑ ﺍﻟﺼﻠﺔ ﺃﻱ )ﻋﻠﻲ( ﻭﻧﺤﻮﻩ، ﻳﻜﻮﻥ ﺻﺮﻳﺤﺎً ﻋﻠﻰ
ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ، ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺼﺮﻳﺢ ﻗﻮﻟﻪ : )ﺟﺴﻤﻚ ﺃﻭ ﺑﺪﻧﻚ ﺃﻭ
ﻧﻔﺴﻚ ﻛﺒﺪﻥ ﺃﻣﻲ ﺃﻭ ﺟﺴﻤﻬﺎ ﺃﻭ ﺟﻤﻠﺘﻬﺎ( ﻟﺘﻀﻤﻨﻪ
ﺍﻟﻈﻬﺮ. ﻭﻣﻨﻪ : ) ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﻛﻴﺪ ﺃﻣﻲ ﺃﻭ ﺑﻄﻨﻬﺎ ﺃﻭ
ﺻﺪﺭﻫﺎ، ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ( ﻣﻦ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﺗﺬﻛﺮ ﻓﻲ
ﻣﻌﺮﺽ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔ ﻭﺍﻹﻋﺰﺍﺯ ﻣﻤﺎ ﺳﻮﻯ ﺍﻟﻈﻬﺮ؛ ﻷﻧﻪ ﻋﻀﻮ
ﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻠﺬﺫ ﺑﻪ، ﻓﻜﺎﻥ ﻛﺎﻟﻈﻬﺮ.
ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺼﺮﻳﺢ: ﺫﻛﺮ ﺟﺰﺀ ﺷﺎﺋﻊ ﻣﺜﻞ ﻧﺼﻔﻚ ﺃﻭ ﺭﺑﻌﻚ،
ﻭﻣﻨﻪ ﺫﻛﺮ ﺃﺣﺪ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﻣﺜﻞ: ﺭﺃﺳﻚ ﺃﻭ ﻇﻬﺮﻙ ﺃﻭ ﻳﺪﻙ
ﺃﻭ ﺭﺟﻠﻚ، ﺃﻭ ﺑﺪﻧﻚ ﺃﻭ ﺟﻠﺪﻙ ﺃﻭ ﺷﻌﺮﻙ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ.
ﻭﺍﻟﻜﻨﺎﻳﺔ: ﺃﻥ ﻳﺬﻛﺮ ﻋﻀﻮﺍً ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔ، ﻣﺜﻞ ﺃﻧﺖ
ﻋﻠﻲ ﻛﻌﻴﻦ ﺃﻭ ﺭﺃﺱ ﺃﻣﻲ ﻭﻧﺤﻮﻩ. ﺃﻭ ﺃﻧﺖ ﻛﺄﻣﻲ ﺃﻭ
ﺭﻭﺣﻬﺎ ﺃﻭ ﻭﺟﻬﻬﺎ، ﻓﺈﻥ ﻗﺼﺪ ﻇﻬﺎﺭﺍً، ﺃﻱ ﻧﻮﻯ ﺃﻧﻬﺎ ﻛﻈﻬﺮ
ﺃﻣﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻓﻬﻮ ﻇﻬﺎﺭ، ﻭﺇﻥ ﻗﺼﺪ ﻛﺮﺍﻣﺔ ﻭﻟﻢ
ﻳﻘﺼﺪ ﺷﻴﺌﺎً، ﻓﻼ ﻳﻜﻮﻥ ﻇﻬﺎﺭﺍً؛ ﻷﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻟﻔﺎﻅ
ﺗﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔ ﻭﺍﻹﻋﺰﺍﺯ.

ﻣﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ - ﺝ 5 ﺻـ
31 – ( 32

) ﻭﺻﺮﻳﺤﻪ ( ﺃﻱ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ) ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ( ﺍﻟﺰﻭﺝ ) ﻟﺰﻭﺟﺘﻪ (
ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ ) ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﺃﻭ ﻣﻨﻲ ﺃﻭ ﻣﻌﻲ ﺃﻭ ﻋﻨﺪﻱ ( ﺃﻭ
ﻟﺪﻱ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ) ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ ( ﻓﻲ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﺭﻛﻮﺏ
ﻇﻬﺮﻫﺎ ، ﻭﺃﺻﻠﻪ : ﺇﺗﻴﺎﻧﻚ ﻋﻠﻲ ﻛﺮﻛﻮﺏ ﻇﻬﺮ ﺃﻣﻲ
ﺑﺤﺬﻑ ﺍﻟﻤﻀﺎﻑ ، ﻭﻫﻮ ﺇﺗﻴﺎﻥ ، ﻓﺎﻧﻘﻠﺐ ﺍﻟﻀﻤﻴﺮ
ﺍﻟﻤﺘﺼﻞ ﺍﻟﻤﺠﺮﻭﺭ ﺿﻤﻴﺮﺍ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ ﻣﻨﻔﺼﻼ ) ﻭﻛﺬﺍ (
ﻗﻮﻟﻪ ) ﺃﻧﺖ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ ( ﺑﺤﺬﻑ ﺍﻟﺼﻠﺔ ) ﺻﺮﻳﺢ ﻋﻠﻰ
ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ( ﻭﻻ ﻳﻀﺮ ﺣﺬﻓﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﺃﻥ ﻗﻮﻟﻪ : ﺃﻧﺖ ﻃﺎﻟﻖ
ﺻﺮﻳﺢ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻘﻞ : ﻣﻨﻲ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻧﻪ ﻛﻨﺎﻳﺔ
ﻻﺣﺘﻤﺎﻝ ﺃﻥ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻱ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻪ ﺑﺨﻼﻑ
ﺍﻟﻄﻼﻕ ، ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻷﻭﻝ : ﻟﻮ ﻗﺎﻝ : ﺃﺭﺩﺕ ﺑﻪ ﻏﻴﺮﻱ ﻟﻢ
ﻳﻘﺒﻞ ﻛﻤﺎ ﺻﺤﺤﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻭﺿﺔ ﻭﺃﺻﻠﻬﺎ ، ﻭﺟﺰﻡ ﺑﻪ
ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ، ﻭﺑﺤﺚ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻗﺒﻮﻝ ﻫﺬﻩ ﺍﻹﺭﺍﺩﺓ
ﺑﺎﻃﻨﺎ ﺗﻨﺒﻴﻪ : ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻷﻡ : ﺃﻡ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﻴﺔ ، ﻓﻠﻮ ﺷﺒﻪ
ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺑﻮﺍﺣﺪﺓ ﻣﻦ ﺯﻭﺟﺎﺕ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺈﻧﻬﻦ ﺃﻣﻬﺎﺕ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻛﺎﻥ ﻟﻐﻮﺍ ) ﻭﻗﻮﻟﻪ ( ﻟﻬﺎ
) ﺟﺴﻤﻚ ﺃﻭ ﺑﺪﻧﻚ ( ﺃﻭ ﺟﻤﻠﺘﻚ ) ﺃﻭ ﻧﻔﺴﻚ ( ﺃﻭ ﺫﺍﺗﻚ
) ﻛﺒﺪﻥ ﺃﻣﻲ ﺃﻭ ﺟﺴﻤﻬﺎ ﺃﻭ ﺟﻤﻠﺘﻬﺎ ( ﺃﻭ ﺫﺍﺗﻬﺎ ) ﺻﺮﻳﺢ (
ﻟﺘﻀﻤﻨﻪ ﺍﻟﻈﻬﺮ ، ﻭﻇﺎﻫﺮ ﻛﻼﻣﻪ ﺍﻟﺠﺰﻡ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ
ﻳﺬﻛﺮ ﺍﻟﺼﻠﺔ ، ﻭﻫﻮ ﻣﺨﺎﻟﻒ ﻟﻠﻤﺤﺮﺭ ﻭﺍﻟﺮﻭﺿﺔ ﻛﺄﺻﻠﻬﺎ
ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺼﺮﻳﺢ ﺑﺎﻟﺼﻠﺔ ، ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮﻫﺎ ﻓﻴﺠﺮﻱ ﻓﻴﻪ
ﺍﻟﺨﻼﻑ ﺍﻟﻤﺘﻘﺪﻡ ، ﻭﻟﻮ ﻗﺎﻝ ﻗﻮﻟﻪ ﺇﻟﺦ ﻛﺎﻟﺘﺸﺒﻴﻪ
ﺑﺎﻟﻈﻬﺮ ﻟﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ) ﻭﺍﻷﻇﻬﺮ ( ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ) ﺃﻥ ﻗﻮﻟﻪ (
ﻟﻬﺎ : ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ) ﻛﻴﺪﻫﺎ ﺃﻭ ﺑﻄﻨﻬﺎ ﺃﻭ ﺻﺪﺭﻫﺎ ( ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ
ﻣﻦ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﺗﺬﻛﺮ ﻓﻲ ﻣﻌﺮﺽ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔ
ﻭﺍﻹﻋﺰﺍﺯ ، ﻣﻤﺎ ﺳﻮﻯ ﺍﻟﻈﻬﺮ ) ﻇﻬﺎﺭ ( ﻷﻧﻪ ﻋﻀﻮ ﻳﺤﺮﻡ
ﺍﻟﺘﻠﺬﺫ ﺑﻪ ﻓﻜﺎﻥ ﻛﺎﻟﻈﻬﺮ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﻈﻬﺎﺭ ؛
ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺻﻮﺭﺓ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﺍﻟﻤﻌﻬﻮﺩﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ
) ﻭﻛﺬﺍ ( ﻗﻮﻟﻪ : ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ) ﻛﻌﻴﻨﻬﺎ ( ﺃﻭ ﺭﺃﺳﻬﺎ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ
ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔ ، ﻛﻘﻮﻟﻪ : ﺃﻧﺖ ﻛﺄﻣﻲ ﺃﻭ
ﺭﻭﺣﻬﺎ ﺃﻭ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻇﻬﺎﺭ ) ﺇﻥ ﻗﺼﺪ ﻇﻬﺎﺭﺍ ( ﺃﻱ ﻧﻮﻯ ﺃﻧﻬﺎ
ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ) ﻭﺇﻥ ﻗﺼﺪ ﻛﺮﺍﻣﺔ ﻓﻼ ( ﻳﻜﻮﻥ
ﻇﻬﺎﺭﺍ ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻟﻔﺎﻅ ﺗﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺮﺍﻣﺔ
ﻭﺍﻹﻋﺰﺍﺯ ) ﻭﻛﺬﺍ ( ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻇﻬﺎﺭﺍ ) ﺇﻥ ﺃﻃﻠﻖ ﻓﻲ
ﺍﻷﺻﺢ )


 b. Sebatas memenuhi syarat-syarat Musabbah Bih ( anggota yang diserupakan)

ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺠﻤﻞ - ) ﺝ 18 / ﺹ 483

ﻗﻮﻟﻪ ﺃﻭ ﺟﺰﺀ ﺃﻧﺜﻰ ( ﺃﻱ ﺟﺰﺀﺍ ﻇﺎﻫﺮﺍ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ
ﻛﺎﻟﻜﺒﺪ ﻓﻼ ﻳﻜﻮﻥ ﻇﻬﺎﺭﺍ ؛ ﻷﻥ ﺷﺮﻁ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﺃﻥ ﻳﺸﺒﻪ

ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺑﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﺷﺒﻪ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ ﺑﺎﻟﺒﺎﻃﻦ ﺃﻭ
ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺑﺎﻟﺒﺎﻃﻦ ﺃﻭ ﻋﻜﺴﻪ ﻓﻼ ﻳﻜﻮﻥ ﻇﻬﺎﺭﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻼﺙ
ﺃﻭ ﺭﺃﺳﻚ ﺃﻭ ﻳﺪﻙ ( ﺃﻱ ﺃﻭ ﺷﻌﺮﻙ ﺃﻭ ﻇﻔﺮﻙ ﺃﻭ ﺟﺰﺅﻙ
ﻣﻦ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮﺓ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﺒﺎﻃﻨﺔ ﻛﺎﻟﻜﺒﺪ ﻭﺍﻟﻘﻠﺐ
ﻓﻼ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻛﺮﻫﺎ ﻇﻬﺎﺭﺍ .

ﺣﻮﺍﺷﻲ ﺍﻟﺸﺮﻭﺍﻧﻲ ) - ﺝ / 8 ﺹ (179

(ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﺒﺎﻃﻨﺔ ﺍﻟﺦ( ﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﻫﻨﺎ ﺗﻨﺒﻴﻪ
ﺗﺨﺼﻴﺺ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺍﻻﻣﺜﻠﺔ ﺑﺎﻻﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮﺓ ﻣﻦ ﺍﻻﻡ
ﻗﺪ ﻳﻔﻬﻢ ﺇﺧﺮﺍﺝ ﺍﻻﻋﻀﺎﺀ ﺍﻟﺒﺎﻃﻨﺔ ﻛﺎﻟﻜﺒﺪ ﻭﺍﻟﻘﻠﺐ ﺑﻪ
ﺻﺮﺡ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺮﻭﻧﻖ ﻭﺍﻟﻠﺒﺎﺏ ﻭﺍﻻﻭﺟﻪ ﻛﻤﺎ ﺍﻋﺘﻤﺪﻩ
ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮﺓ ﻛﻤﺎ ﺍﻗﺘﻀﺎﻩ
ﺇﻃﻼﻗﻬﻢ ﺍﻟﺒﻌﺾ ﺍﻩ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭﺍﻻﻭﺟﻪ ﺍﻟﺦ ﺿﻌﻴﻒ ﺍﻩ ﻉ
ﺵ ﻓﻼ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻛﺮﻫﺎ ﻇﻬﺎﺭﺍ ﺃﻱ ﻻ ﺻﺮﻳﺤﺎ ﻭﻻ ﻛﻨﺎﻳﺔ
ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺭﺓ ﻭﻧﻘﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﺭﺱ ﻋﻦ ﻡ ﺭ
ﺃﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﻨﺎﻳﺔ ﻭﺗﻮﻗﻔﻨﺎ ﻓﻴﻪ ﻭﺍﻻﻗﺮﺏ ﺍﻻﻭﻝ ﻟﻠﺘﻌﻠﻴﻞ
ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﺃﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺎﺭﺡ ﺍﻩ



ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﻮﻳﺘﻴﺔ - ) ﺝ / 29 ﺹ (192 ﺃﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ 7: -

ﺭﻛﻦ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ - ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ - ﺍﻟﻠﻔﻆ ﺍﻟﺪﺍﻝ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺘﻌﺒﻴﺮ ﺍﻟﻤﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺗﺸﺒﻴﻪ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﺑﺎﻣﺮﺃﺓ ﻣﺤﺮﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺗﺤﺮﻳﻤﺎ ﻣﺆﺑﺪﺍ ﻛﺄﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ ﺃﻭ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻡ ﻣﻘﺎﻣﻪ ، ﻓﺎﻟﻈﻬﺎﺭ ﻻ ﻳﻘﻮﻡ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﺘﻌﺒﻴﺮ ﺍﻟﻤﻨﺸﺊ ﻟﻪ ﻋﻨﺪﻫﻢ .
ﻭﺃﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻫﻲ 1. - ﻣﺸﺒﻪ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺍﻟﻤﻈﺎﻫﺮ 2 - ﻣﺸﺒﻪ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﺍﻟﻤﻈﺎﻫﺮ ﻣﻨﻬﺎ 3. - ﻣﺸﺒﻪ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﺑﻄﺮﻳﻖ ﺍﻷﺻﺎﻟﺔ - 4. ﺍﻟﺼﻴﻐﺔ (1) .ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ : ﻳﺸﺘﺮﻁ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﻣﺎ ﻳﻠﻲ : ﺍﻟﺸﺮﻁ ﺍﻷﻭﻝ 8 - ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻣﻮﺟﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻛﻠﻬﺎ ﺃﻭ ﺇﻟﻰ ﺟﺰﺀ ﻣﻨﻬﺎ ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻣﻮﺟﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻛﻠﻬﺎ ﺻﺢ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ، ﻭﺻﻮﺭﺗﻪ : ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﺰﻭﺟﺘﻪ : ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ . ﺃﻣﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻣﻮﺟﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺟﺰﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻷﺟﺰﺍﺀ ﺍﻟﺸﺎﺋﻌﺔ ﻛﺎﻟﻨﺼﻒ ﻭﺍﻟﺮﺑﻊ ، ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻷﺟﺰﺍﺀ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻌﺒﺮ ﺑﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻜﻞ ﻣﺠﺎﺯﺍ ﻓﺎﻟﻈﻬﺎﺭ ﻳﻜﻮﻥ ﺻﺤﻴﺤﺎ . ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﻤﺸﺒﻪ ﻻ ﻳﻌﺒﺮ ﺑﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻜﻞ ﻣﺠﺎﺯﺍ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﻴﺪ ﻭﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻓﻼ ﻳﺼﺢ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ، ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻳﺼﺢ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﻤﺸﺒﻪ ﺟﺰﺀﺍ ﺣﻘﻴﻘﺔ ﻛﺎﻟﻴﺪ ﻭﺍﻟﺮﺟﻞ ، ﺃﻭ ﻛﺎﻥ ﺟﺰﺀﺍ ﺣﻜﻤﺎ ﻛﺎﻟﺸﻌﺮ ﻭﺍﻟﺮﻳﻖ ﻭﺍﻟﻜﻼﻡ .ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ﻭﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﻳﺼﺢ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﻤﺸﺒﻪ ﻛﺎﻟﻴﺪ ﻭﺍﻟﺮﺟﻞ ، ﻭﺃﺿﺎﻑ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺼﺢ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻷﺟﺰﺍﺀ ﺍﻟﻤﻨﻔﺼﻠﺔ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺜﺎﺑﺘﺔ ﻛﺎﻟﺪﻣﻊ ﻭﺍﻟﺮﻳﻖ ﻭﺍﻟﻜﻼﻡ (1) .ﺍﻟﺸﺮﻁ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : 9 - ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﺑﺎﻣﺮﺃﺓ ﻣﺤﺮﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻭﺝ . ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺇﻣﺎ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺗﺤﺮﻳﻤﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺆﺑﺪﺍ ، ﻭﺇﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺆﻗﺘﺎ . ﻓﺈﻥ ﺷﺒﻪ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺑﺎﻣﺮﺃﺓ ﻣﺤﺮﻣﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺘﺄﺑﻴﺪ ﺑﻠﻔﻆ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ، ﺑﺄﻥ ﻗﺎﻝ ﻟﻬﺎ : ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ ، ﻓﻘﺪ ﺫﻫﺐ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻇﻬﺎﺭ . ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺷﺒﻬﻬﺎ ﺑﻤﻦ ﺗﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺘﺄﻗﻴﺖ ، ﻛﺄﺧﺖ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ، ﻓﻘﺪ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ .ﻓﺬﻫﺐ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ، ﻭﺭﻭﺍﻳﺔ ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ : ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺗﺸﺒﻴﻪ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺑﻤﻦ ﺗﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺘﺄﻗﻴﺖ ﻟﻐﻮ ﻭﻟﻴﺲ ﺑﻈﻬﺎﺭ .ﻭﺫﻫﺐ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﻨﺎﻳﺔ ﻇﻬﺎﺭ ، ﺇﻥ ﻧﻮﻯ ﺑﻪ ﻇﻬﺎﺭﺍ ﻭﻗﻊ ، ﻭﺇﻻ ﻓﻼ ، ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺒﻬﻮﺗﻲ ، ﻭﺭﻭﺍﻳﺔ ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺃﻭﺭﺩﻫﺎ ﺍﺑﻦ ﻗﺪﺍﻣﺔ ﺃﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﻇﻬﺎﺭﺍ 10. (1) - ﻭﺇﺫﺍ ﺷﺒﻪ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺑﻌﻀﻮ ﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﺤﺮﻣﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﺗﺤﺮﻳﻤﺎ ﻣﺆﺑﺪﺍ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻫﻮ ﻇﻬﺮ ﺍﻷﻡ ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻟﻬﺎ : ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ ، ﻓﻼ ﺧﻼﻑ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻓﻲ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﺑﻪ ، ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻨﺬﺭ : ﺃﺟﻤﻊ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺻﺮﻳﺢ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ ، ﻭﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺧﻮﻟﺔ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺃﻭﺱ ﺑﻦ ﺍﻟﺼﺎﻣﺖ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﻟﻬﺎ : ﺃﻧﺖ ﻋﻠﻲ ﻛﻈﻬﺮ ﺃﻣﻲ ، ﻓﺬﻛﺮ ﺫﻟﻚ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Wallaahu A'lamu Bis Showaab

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © KAJIAN ISLAM SEPUTAR SEKS - DONK 2014-2015
Ikuti Kami di Facebook & Fans Page