0140..HUKUM ISTRI MENOLAK AJAKAN SUAMI KARENA MELAKUKAN QODLO' PUASA WAJIB

  • PERTANYAAN
    Siti Jubaedah
    Assalamualaikum wrwb,mau tanya dosa gak kalo seorang istri menolak untuk ML di siang hari karena sedang berpuasa mengganti puasa bulan ramadhan yg batal karena haid



    JAWABAN


    Kudung Khantil Harsandi Muhammad
    WA ALAIKUM SALAM
     اعانة الطالبين ج 2 ص 273

    ويحرم على الزوجة ان تصوم تطوعا او قضاء موسعا وزوجها حاضر الا بإذنه او علم رضاه
    ............
    ( ويحرم على الزوجة الخ )
     هذا حيث جاز التمتع بها والا كأن قام بالزوج مانع من الوطء كإحرام او اعتكاف فلا حرمة ، وحيث لم يقع بها مانع كالرتق والقرن والا فلا حرمة ايضا.
    ومحل التحريم في الصوم المتكرر في السنة كالإثنين والخميس بخلاف صوم يوم عرفة وعاشوراء لانهما نادران في السنة.
    ومع الحرمة ينعقد صومها كالصلاة في دار مغصوبة.

    ولزوجها وطؤها والإثم عليها



     TERJEMAHANNYA

    Dan haram bagi sang istri menjalankan puasa sunnah atau puasa qodlo yang waktunya longgar (dikarenakan saat tidak puasa romadlonnya bukan karena sebuah kecerobohan, misal sebab sakit atau haidl, dan semisalnya) dalam situasi suaminya berada dirumah (tidak keluar desa maksudnya, apalagi keluar kota  ) kecuali atas seizin sang suami atau yakin akan ridlonya.
    ............
    DAN HARAM BAGI ISTRI dst..... Hal ini berlaku sekira keadaan sang suami diperbolehkan untuk mengumpuli istrinya. Jika tidak boleh (dalam artian suami dalam keadaan tidak boleh mengumpuli sang istri), seperti ada sesuatu penghalang yang tidak memperbolehkan suami melakukan hubungan badan dengan sang istri, misal suami dalam keadaan ihrom atau dalam keadaan sedang menjalankan i'tikaf, maka tidak ada keharaman (bagi sang istri untuk menjalankan puasa sunnah atau puasa qodlo yang waktunya longgar).
    Dan juga sekiranya dari pihak sang istri tidak ada penghalang untuk mengumpulinya, (contoh penghalang) seperti vaginanya tertutup tulang dan tertutup daging. Jika dari pihak istri ada penghalang (misal vaginanya rapat sebab tertutup tulang ataupun daging), maka tidak ada hukum keharaman pula (bagi sang istri untuk menjalankan puasa sunnah dan qodlo yang waktunya longgar).

    Hukum haram tersebut berlaku untuk puasa-puasa sunnah yang terulang-ulang dalam setahun seperti puasa senin dan kamis.
    Beda halnya (tidak dihukumi haram) dengan puasa hari Arafah dan puasa Asyura', karena keduanya hanya sekali dalam setahun.

    Meski hukumnya haram, tapi puasa yang dijalani sang istri tetap dihukumi sah, sebagaimana permasalahan sholat di rumah hasil ghosoban.

    (Dalam keadaan istri berpuasa yang dihukumi haram) bagi suami tetap diperbolehkan untuk mengumpuli istrinya, sedang dosanya sepenuhnya dibebankan pada sang istri.



    Ana Uhibbuka Fillah


    cuma mau nambahin

    ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ – ﺝ 35 ﺹ 491 : ﻭﻳﻤﻨﻌﻬﺎ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺻﻮﻡ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺻﻼﺓ ﺃﻭ ﺍﻋﺘﻜﺎﻑ ﻧﻔﻞ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﻭﺍﻧﺘﻬﺎﺀ ﻭﻟﻮ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺮﻭﺏ ﻷﻥ ﺣﻘﻪ ﻣﻘﺪﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻮﺟﻮﺑﻪ ﻋﻠﻴﻬﺎ ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﺘﻤﺘﻊ ﺑﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻭﺟﻪ ؛ ﻷﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﻄﺮﺃ ﻟﻪ ﺇﺭﺍﺩﺗﻪ ﻓﻴﺠﺪﻫﺎ ﺻﺎﺋﻤﺔ ﻓﻴﺘﻀﺮﺭ . ﻓﺈﻥ ﺃﺑﺖ ﻭﺻﺎﻣﺖ ، ﺃﻭ ﺃﺗﻤﺖ ﻏﻴﺮ ﻧﺤﻮ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ، ﺃﻭ ﺻﻠﺖ ﻏﻴﺮ ﺭﺍﺗﺒﺔ. ﻓﻨﺎﺷﺰﺓ ﻓﻲ ﺍﻷﻇﻬﺮ ﻓﺘﺴﻘﻂ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﺆﻥ ﻣﺎ ﺻﺎﻣﺘﻪ ﻻﻣﺘﻨﺎﻋﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻤﻜﻴﻦ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ، ﻭﻻ ﻧﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺗﻤﻜﻨﻪ ﻣﻦ ﻭﻃﺌﻬﺎ ، ﻭﻟﻮ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﻮﻡ ؛ ﻷﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﻬﺎﺏ ﺇﻓﺴﺎﺩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻓﻴﺘﻀﺮﺭ ، ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﺣﺮﻡ ﺻﻮﻣﻬﺎ ﻧﻔﻼ ، ﺃﻭ ﻓﺮﺿﺎ ﻣﻮﺳﻌﺎ ﻭﻫﻮ ﺣﺎﺿﺮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺇﺫﻧﻪ ، ﺃﻭ ﻋﻠﻢ ﺭﺿﺎﻩ ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺍﻣﺘﻨﺎﻋﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﺇﻥ ﺃﺿﺮﻫﺎ ، ﺃﻭ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺮﺿﻌﻪ ، ﻭﺃﺧﺬ ﺃﺑﻮ ﺯﺭﻋﺔ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻞ ﺃﻧﻬﺎ ﻟﻮ ﺍﺷﺘﻐﻠﺖ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ﺑﻌﻤﻞ ، ﻭﻟﻢ ﻳﻤﻨﻌﻪ ﺍﻟﺤﻴﺎﺀ ﻣﻦ ﺗﺒﻄﻴﻠﻬﺎ ﻋﻨﻪ ﻛﺨﻴﺎﻃﺔ ﺑﻘﻴﺖ ﻧﻔﻘﺘﻬﺎ . ﻭﺇﻥ ﺃﻣﺮﻫﺎ ﺑﺘﺮﻛﻪ ﻓﺎﻣﺘﻨﻌﺖ ﺇﺫ ﻻ ﻣﺎﻧﻊ ﻣﻦ ﺗﻤﺘﻌﻪ ﺑﻬﺎ ﺃﻱ ﻭﻗﺖ ﺃﺭﺍﺩ ﺑﺨﻼﻑ ﻧﺤﻮ ﺗﻌﻠﻴﻢ ﺻﻐﺎﺭ ؛ ﻷﻧﻪ ﻳﺴﺘﺤﻲ ﻋﺎﺩﺓ ﻣﻦ ﺃﺧﺬﻫﺎ ﻣﻦ ﺑﻴﻨﻬﻦ ، ﻭﻗﻀﺎﺀ ﻭﻃﺮﻩ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﺈﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﻨﺘﻪ ﺑﻨﻬﻴﻪ ﻓﻬﻲ ﻧﺎﺷﺰﺓ ، ﺃﻣﺎ ﻧﺤﻮ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﻓﻠﻬﺎ ﻓﻌﻠﻬﻤﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﺇﺫﻧﻪ ﻛﺮﻭﺍﺗﺐ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﺨﻼﻑ ﻧﺤﻮ ﺍﻻﺛﻨﻴﻦ ، ﻭﺍﻟﺨﻤﻴﺲ ﻭﺑﻪ ﻳﺨﺺ ﺍﻟﺨﺒﺮ ﺍﻟﺤﺴﻦ : ﻻ ﺗﺼﻮﻡ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻳﻮﻣﺎ ﺳﻮﻯ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺯﻭﺟﻬﺎ ﺷﺎﻫﺪ ﺇﻻ ﺑﺈﺫﻧﻪ . ﻭﻟﻮ ﻧﻜﺤﻬﺎ ﺻﺎﺋﻤﺔ ﺗﻄﻮﻋﺎ ﻟﻢ ﻳﺠﺒﺮﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﻟﻜﻦ ﺍﻷﻭﺟﻪ ﺳﻘﻮﻁ ﻣﺆﻧﻬﺎ

    ﻭﺍﻷﺻﺢ ﺇﻥ ﻗﻀﺎﺀ ﻻ ﻳﺘﻀﻴﻖ ﻟﻜﻮﻥ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﺑﻌﺬﺭ ﻣﻊ
    ﺍﺗﺴﺎﻉ ﺍﻟﺰﻣﻦ ، ﻭﻗﺪ ﺗﺸﻤﻞ ﻋﺒﺎﺭﺗﻪ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻔﺼﻞ
    ﻓﻴﻪ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺘﻀﻴﻴﻖ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻭﻫﻮ ﺍﻷﻭﺟﻪ ﻛﻨﻔﻞ ﻓﻴﻤﻨﻌﻬﺎ ﻣﻨﻪ
    ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺸﺮﻭﻉ ﻓﻴﻪ ﻭﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺇﺫﻧﻪ ؛ ﻷﻧﻪ ﻣﺘﺮﺍﺥ
    ﻭﺣﻘﻪ ﻓﻮﺭﻱ ، ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﺗﻀﻴﻖ ﻟﻠﺘﻌﺪﻱ ﺑﺈﻓﻄﺎﺭﻩ ، ﺃﻭ
    ﻟﻀﻴﻖ ﺯﻣﻨﻪ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﺒﻖ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻳﺴﻌﻪ ﻓﻼ
    ﻳﻤﻨﻌﻬﺎ ﻣﻨﻪ ، ﻭﻧﻔﻘﺘﻬﺎ ﻭﺍﺟﺒﺔ ﻟﻜﻨﻪ ﻣﺸﻜﻞ ﻓﻲ ﺻﻮﺭﺓ
    ﺍﻟﺘﻌﺪﻱ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺎﻧﻊ ﻧﺸﺄ ﻋﻦ ﺗﻘﺼﻴﺮﻫﺎ ، ﻭﻟﻪ ﻣﻨﻌﻬﺎ ﻣﻦ
    ﺻﻮﻡ ﻧﺬﺭ ﻣﻄﻠﻖ ﻛﻤﻌﻴﻦ ﻧﺬﺭﺗﻪ ﻓﻲ ﻧﻜﺎﺣﻪ ﺑﻼ ﺇﺫﻧﻪ
    ﻭﺻﻮﻡ ﻛﻔﺎﺭﺓ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﺇﺗﻤﺎﻣﻪ ، ﻭﺇﻥ ﺷﺮﻋﺖ ﻓﻴﻪ ﻗﺒﻞ
    ﻣﻨﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻭﺟﻪ ، ﻭﻳﺆﺧﺬ ﻣﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺘﻌﺪﻳﺔ
    ﺑﺎﻹﻓﻄﺎﺭ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺘﻌﺪﻳﺔ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﻻ ﻳﻤﻨﻌﻬﺎ ،
    ﻭﺗﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﻨﻔﻘﺔ .
    ﻭﺃﻓﺘﻰ ﺍﻟﺒﺮﻫﺎﻥ ﺍﻟﻔﺰﺍﺭﻱ ﻓﻲ ﻣﺴﺎﻓﺮﻳﻦ ﺑﺮﻣﻀﺎﻥ ﺑﺄﻧﻪ ﻻ
    ﻳﻤﻨﻌﻬﺎ ﻣﻦ ﺻﻮﻣﻪ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﺫﺭﻋﻲ ، ﻭﺗﺒﻌﻪ ﺍﻟﺰﺭﻛﺸﻲ : ﻭﻫﻮ
    ﻣﺘﺠﻪ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻗﻴﻞ ﻭﻫﻮ ﺃﻭﺟﻪ
    ﻣﻤﺎ ﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺎﻭﺭﺩﻱ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻒ ﻟﺬﻟﻚ ﺍﻧﺘﻬﻰ


    Ibnu Al-Ihsany

    dari ibarat Ana Uhibbuka Fillah memberikan alasan bahwa hajat suami itu sifat segera, dan puasa dalam waktu yg muwassa' itu sifatnya bisa ditunda. karena kalau suami kepengen bingung deh kalau ditunda. disini mndahulukan haq adami daripada haq Allah. mirip isra'nya Nabi kemudian Mi'raj. namun untuk melayani suami selain bentuk memenuhi haq adami juga sebagai bentuk ubudiyah, karena nurut suami juga sebagian ibadah.

    tentang izin puasa kepada suami, melihat ibarat ziif kaf dalam ianah, dan yg ditampilkan Ana Uhibbuka Fillah memberikan pemahaman, bahwa puasa qodho' yg dilakukan istri pd waktu mudhoyyaq tidak mengapa dilakukan meskipun tanpa izin suami dan suami ada di rumah/bersama istri, dan tdk mengapa menolak ajakan suami pada waktu tersebut utk mengqodho' puasa.

     wallohu a'lam.

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © KAJIAN ISLAM SEPUTAR SEKS - DONK 2014-2015
Ikuti Kami di Facebook & Fans Page