0373. KISAH SEEKOR BURUNG PIPIT

Oleh Tahta Alfina pada 2 November 2013 pukul 13:01

• Sunde Pati

CERITA HIKMAH

Kisah Seekor Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor BurungPipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udara disana selalu dingin dan sejuk.
Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.
Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.
Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki-maki si Kerbau. Lagi-lagi si Kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia akan mati karena tak bisa bernapas.
Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puas-puasnya.
Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.
Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran, diantaranya :
Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang-kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan. Waspadalah terhadap orang yang memberikan janji yang berlebih
-------------
Hidup hanya ada 2 sisi berbeda. Penderitaan dan Kebahagiaan, namun dari situlah kita menjadi kuat dan tegar.
Dalam hidup, belajarlah tuk menghargai apa yg kita miliki, sebelum waktu mengharuskan kita menghargai apa yg PERNAH kita miliki.
Jangan merusak apa yang kita miliki sekarang dengan mengejar sesuatu yang tidak mungkin kita miliki. Sebab, apa yang ada pada kita saat ini bisa jadi merupakan salah satu dari banyak hal yang paling kita impikan.
“Rasa bahagia dan tak bahagia bukan berasal dari apa yang kita miliki, bukan pula berasal dari siapa diri kita, atau apa yang kita kerjakan. Bahagia dan tak bahagia berasal dari pikiran kita
LINK ASAL :
https://www.facebook.com/groups/kiss.donk/permalink/603121626392262/

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © KAJIAN ISLAM SEPUTAR SEKS - DONK 2014-2015
Ikuti Kami di Facebook & Fans Page