0428 . KISAH POHON MANGGIS

• Sunde Pati

CERITA HIKMAH

Kisah Pohon manggis

Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon manggis yang amat besar.Seorang kanak-kanak begitu gemar bermain-main di sekitar pohon manggis ini setiap hari. Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan manggis sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon manggis tersebut.
Anak tersebut begitu menyayangi tempat permainannya.Pohon manggis itu juga menyukai anak tersebut. Masa berlalu… anak itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar pohon manggis tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon manggis tersebut dengan wajah yang sedih.

“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon manggis itu.

” Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja itu.

” Aku mau permainan. Aku perlu uang untuk membelinya,” tambah remaja itu dengan nada yang sedih.

Lalu pohon manggis itu berkata,
“Kalau begitu, petiklah manggis-manggis yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan."

Remaja itu dengan gembiranya memetik semua manggis di pohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon manggis itu merasa sedih.

Masa berlalu…Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon manggis itu merasa gembira.

“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon manggis itu.

“Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bisakah kau menolongku?”

Tanya anak itu.
“Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya.”

Pohon manggis itu memberikan cadangan. Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong ke semua dahan pohon manggis itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon manggis itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.

Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon manggis itu. Dia sebenarnya adalah anak yang pernah bermain-main dengan pohon manggis itu. Dia telah matang dan dewasa.

“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon manggis itu.

“Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai perahu. Bolehkah kau menolongku?”
Tanya lelaki itu.

“Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan gembira,” kata pohon manggis itu.

Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon manggis itu. Dia kemudian pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu.Namun begitu, pada suatu hari, seseorang yang semakin di mamah usia, datang menuju pohon manggis itu. Dia adalah anak yang pernah bermain di sekitar pohon manggis itu.

“Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon manggis itu dengan nada pilu.

“Aku tidak mau manggismu karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mau dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mahu batang pohonmu kerana aku tidak berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab si tua itu.

“Jika begitu, istirahatlah di perduku,” kata pohon manggis itu.
Lalu si tua itu duduk beristirahat di perdu pohon manggis itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan.

Tahukah anda. Sebenarnya, pohon manggis yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah kedua ibu bapak kita. Saat kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita di dalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup. Anda mungkin terfikir bahwa anak itu bersikap kejam terhadap pohon manggis itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kita melayani ibu bapak kita.

Hargailah jasa ibu bapak kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka semasa menyambut hari ibu dan hari bapak setiap tahun.

Allah SWT berfirman :

وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”

[Q.S Al-ahqof:15]

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia .
(Q.S Al-isro' ayat 23)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Q.S Al-isro' ayat 24)

Belum ada kata terlambat untuk kembali berbakti kepada kedua orang tua kita biarpun mereka sudah tidak ada di dunia fana ini….

-----------

Kebaikan seorang ayah lebih tinggi daripada gunung dan kebaikan seorang ibu lebih dalam dari pada laut.

Orang tua itu ibarat Qur'an yang sudah usang, namun walau usang tapi harus selalu dijunjung dan dimuliakan.

Jika Ayah adalah matahari untuk siang hari dalam hidup kita, maka Ibu adalah bulan untuk malam harinya. Kita teramat membutuhkan mereka, sekalipun terkadang kita menyombongkan diri merasa telah mampu tanpa mereka. Nyatanya, tanpa matahari dan bulan, hidup ini entah jadi apa. Dan kita, tanpa Ayah dan Ibu, bukanlah siapa-siapa.

Dalam hidup ini, kebahagiaan terbesar berasal dari kebahagiaan keluarga

Semoga bermanfaat untuk kita semua

Amin


LINK ASAL :
https://www.facebook.com/groups/kiss.donk/permalink/611850255519399/

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © KAJIAN ISLAM SEPUTAR SEKS - DONK 2014-2015
Ikuti Kami di Facebook & Fans Page