0211. HAKIKAT JUJUR DAN IKHLAS

  • PERTANYAAN :

    Muhamad Afiff
    Seperti apa sih JuJuR,dan ikhlas itu?

    JAWABAN :

    • Mbah Godek 
    Bismillah

    jujur adalah membenarkan sesuatu pada fakta/kenyataannya hal ini kebalikannya bohong dan bohong yaitu sesuatu yg berselisih dengan kenyataan 

    شرح فتح المجيد شرح كتاب التوحيد - للغنيمان (102/ 11

    السادسة: تفسير الإيمان الصادق والكاذبالإيمان الصادق هو في الذي يكون صاحبه مطيعاً لله جل وعلا، ويكون في قوله صادقاً، وليس الذي يكون عاصياً ويكون في قوله كاذباً، فإذا أخفى في قلبه شيئاً خلاف العمل الذي يعمله فإنه يكون كاذباً؛ لأن الصدق هو مطابقة الشيء في الواقع، والكذب أن يختلف عن الواقع

    =====================

    sebagian para ilmuan berkata,perbedaan antara ikhlas dan jujur adalah bahwa ssungguhnya jujur itu pokoknya sedangkan ikhlas adalah cabang dari kejujuransebagian lagi berpendapat,,ikhlas tak bisa timbul kecuali setelah melakukan suatu amal/pekerjaan sedangkan jujur itu perkara yg timbul dengan disertai niat sebelum beramal/melakukan suatu pekerjaan

    اعمال القلوب .. خالد السبت (ص: 44)

    بعض أهل العلم يقولون: إن الفرق بين الإخلاص والصدق: أن الصدق هو الأصل، والإخلاص متفرع عنه.[انظر:التعريفات للجرجاني] وبعضهم يقول: بأن الإخلاص لا يكون إلا بعد الدخول في العمل، وأما الصدق فيكون بالنية قبل الدخول فيه

    ====================

    Ciri-ciri ihlas

    Tanda-tanda ikhlas yaitu keseimbangan puji dan cela serta melupakan amal setelah melakukan amal yg dikerjakannya juga menyembunyikan sesuatu ketaatan yg mungkin untuk disembunyikan

    بشريات السلامة جزء 1 ص 277 

    علامات الإخلاص استواء المدح والذم نسيان العمل بعد عمله إخفاء ما يمكن إخفاؤه من الطاعات

    ==================

    HAKIKAT IKHLAS 

    Oleh: KH. Dr. A. Mustofa BisriKami, aku dan kakakku Kiai Cholil Bisri, mendengar dari guru kami Syeikh Yasin Al-Fadani dan ayah kami Kiai Bisri Mustofa --rahimahumuLlah, masing-2 berkata: Aku bertanya kpd Sayyid Guru Umar Hamdan ttg hakikat IKHLAS, dan beliau pun berkata: Aku pernah bertanya kpd guruku Syeikh Sayyid Muhammad Ali Al-Witri ttg hal itu dan beliau berkata, Aku pernah bertanya ttg hal itu kpd guruku Syeikh Abdul Ghani Al-Mujaddidi, beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada guruku Syeikh Muhammad Abid As-Sindi Al-Anshari, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Shiddiq bin Ali Al-Mizjaji,beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Hasan Al-Ujaimi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad al-Qasysyasyi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad Syanaawi, beliau berkat: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku Syeikh Ali Asy-Syanaawi, dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Al-Haafizh Jalaluddin As-Suyuthi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada A'isyah binti Jaarullah bin Shaleh Ath-Thabari, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Shiddiq dan beliau berkata: Aku bertanya ttg hal itu kpd Syeikh Abul Abbas Al-Hajjar dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Jakfar Ibn Ali AL-Hamdani, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abul Qasim bin Basykual, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Qadhi Abu Bakar bin aL-'Arabi, beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ismail bin Muhammad Al-Fadhal Al-Ashbihani, beliau berkata: Aku pernah menanyakan halitu kepada Syeikh Abu Bakar bin Ahmad bin Ali bin Khalaf dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abdurrahman Al-Baihaqi dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Sa'id Ats-Tsaghrai dan Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Zakaria dan beliau berdua berkata: Kami pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Ibrahim Asy-Syaqiqi dan beliau berkata: Aku pernaha menanyakan hal itu kepada Syeikh Abu Ya'qub Asy-Syaruthi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh AHmad bin Ghassan dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad bin 'Atha' Al-Hujaimi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahid bin Zaid dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Imam Hasan Al-Bashari, beliau menjawab, Aku pernah bertanya kepada shahabat Hudzaifah r.a, beliau menjawab: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW ikhlas itu apa, beliau menjawab: Aku pernah menanyakan ttg ikhlas itu kpd malaikat Jibril a.s dan beliau menjawab: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Allah Rabbul 'Izzaah, dan IA menjawab: "IKHLAS ialah RAHASIA di antara rahasia-rahasiaKU yg KUtitipkan di hati hambaKU yg AKu cintai."

    • Tahta Alfina 
    Sedikit menambahkan :

    " Al A'maalu Shuwarun qooimah wa arwaahuhaa wujuudu sirril ikhlaashi fiihaa "

    " Amal ibadah itu adalah gambar-gambar mati yang terlihat , sedangkan ruhnya adalah inti yang berada didalamnya , yaitu IKHLAS ."

    Ikhlas itu beragam tingkatannya sesuai dengan tingkatan manusia :

    1. Ikhlas Al Ibaad [ keikhlasan para hamba ]ialah amal perbuatan yang bersih dari riya' dan yang menjadi bagian dari nafsu . Mereka beramal semata-mata karena Allah , sembari mendambakan pahala dari-NYA dan keselamatan dari siksa-NYA.

    2. Ikhlas Al Muhibbin [ keikhlasan para pecinta ]ialah amal perbuatan semata-mata karena Allah , sembari berta'dzim dan hormat kepada-NYA . Mereka memandang bahwa Allah berhak disembah dan diagungkan . Mereka beramal tidak karena ingin pahala atau lari dari siksa-NYA.

    3. Ikhlas Al 'Arifin [ keikhlasan para wali yang mengenal Allah ]ialah penyaksian mereka bahwa Al Haq sendiri [ tanpa sekutu ] , yang menggerakkan dan mendiamkan mereka . Sama sekali mereka tidak memandang bahwa diri mereka memiliki kekuatan untuk mengamalkan amalan yang mereka amalkan . Mereka tidak merasa mengamalkan apa-apa , tetapi Allah lah yang telah menggerakkan mereka .

    Refrensi :
    Al Hikam , kutipan hikmah ke 10 .

    Sunde Pati 
    dokumen piss

    0936. TINGKATAN KEIKHLASAN 

    Mumu Bsa 

    TINGKATAN KEIKHLASAN 

    Ada orang yang bertanya: apakah boleh kita membaca waqiah dengan tujuan meraih dunia (kelancaran rizki)? Apakah hal ini tidak termasuk kategori Riya'. Permasalahan seperti ini bisa saja menggangu pikiran para jamaah. Maka dalam kesempatan ini saya ingin meluruskan mengenai definisi riya, ikhlas dan tingkatannya seperti berikut dan selanjutnya anda yang akan menjawab pertanyaan diatas dengan sendirinya. Dalam Risalah qusyairiyah disebutkan :

    وقال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى: (ترك العمل من أجل الناس رياء، والعمل من أجل الناس شرك، والإخلاص أن يعافيك الله منهما) ["الرسالة القشيرية" ص95 ـ 96) 

    Fudhail bin iyadl Rahimahullah berkata: Meninggalkan Amal karena manusia itu namanya riya', beramal karena manusia itu namanya syirik dan Ikhlas adalah jika engkau dijauhkan oleh Allah dari keduanya. Sedang ibnu ajibah Rahimahullah berkata ;

    الإخلاص على ثلاث درجات: إخلاص العوام والخواص وخواص الخواص. 

    Ikhlas terdiri atas tiga tahapan:

    فإخلاص العوام: هو إخراج الخلق من معاملة الحق مع طلب الحظوظ الدنيوية والأخروية كحفظ البدن والمال وسعة الرزق والقصور والحور. 

    (1) Ikhlas awam. yaitu, berbuat karena Allah semata, namun masih menginginkan bagian dunia dan akhirat, seperti kesehatan dan kekayaan –Rizki yang melimpah , juga kemegahan di surga serta bidadari;

    وإخلاص الخواص: طلب الحظوظ الأخروية دون الدنيوية. 

    (2) Ikhlas Khusus. yaitu, hanya menginginkan bagian akhirat tanpa memperdulikan bagiannya di dunia;

    وإخلاص خواص الخواص: إخراج الحظوظ بالكلية، فعبادتهم تحقيق العبودية والقيامُ بوظائف الربوبية محبة وشوقاً إلى رؤيته، 

    (3) Ikhlas khawasul khawas. yaitu, melepaskan seluruh keinginan atau bagian kesenangan serta balasan dunia dan akherat, persembahan mereka semata-mata hanya untuk merealisasikan ubudiyah sekaligus melaksanakan hak dan perintah Ke-Tuhanan (Rububiyah), karena cinta dan rindu untuk melihat Allah SWT. Dalam kitab minhajul abidin terdapat permasalahan yaitu: Banyak masyayikh yang mengamalkan surat waqiah sewaktu dilanda kesulitan (ayyamul usri), mereka membaca quran yang termasuk amalan akhirat tapi dengan menghendaki harta dunia, apakah tidak termasuk riya'? Imam ghazali menjawab bahwa tujuan mereka adalah dunia yang digunakan untuk kebaikan, mengajarkan ilmu, menolak ahli bid'ah, membela kebenaran, mengajak-ngajak manusia menuju ibadah, dan mempermudah ibadah.

    فَهَذِهِ كُلُّهَا إرَادَاتٌ مَحْمُودَةٌ لَا يَدْخُلُ شَيْءٌ مِنْهَا فِي بَابِ الرِّيَاءِ ؛ إذْ الْمَقْصُودُ مِنْهَا أَمْرُ الْآخِرَةِ بِالْحَقِيقَةِ 

    Ini semua adalah keinginan / tujuan yang terpuji yang tidak masuk kedalamnya sesuatupun dari unsur riya'. Karena harta dunia (yang dicari dari surat waqiah) hakikatnya adalah berorientasi akhirat.Hal ini berlandaskan pada hadits shohih; "innamal a'mal bin niyyaat " yang dijabarkan dalam sebuah hadits :

    كم من عمل يتصور بصورة الدنيا فيصير من أعمال الآخرة بحسن النية, وكم من عمل يتصور بصور الآخرة فيصير من أعمال الدنيا بسوء النية 

    Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat. 
    [ by : gusfathulbari ].

    Wallaahu A'lam

    LINK ASAL :

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © KAJIAN ISLAM SEPUTAR SEKS - DONK 2014-2015
Ikuti Kami di Facebook & Fans Page