0290. HUKUM GHIBAH / GOSIP

PERTANYAAN :

Robby Fang
assalamu alaikum, membicarakan keburukan pejabat publik seperti bupati, gubernur, presiden, mentri, apakah termasuk ghibah dan juga dosa?

JAWABAN :

• Iv Bageur
 وعليكم السلام...

مرقاه صعود التصديق/ص ٦٨ومن معاص اللسان الغيبة بكسر الغين وهى ذكرك اخاك المسلم بما يكرهه اى ولو بلغه سواء ذكرته بنقص فى بدنه اوسبه اوفى خلقه اوفى فعله اوفى قوله اودينه الى ان قال وان كان اى المذكور بلسانك موجودا فيه اى اجيك المسلم لقوله صلى الله عليه وسلم اغتبتم اخاكم قالوا يارسول الله قلنا ما فيه قال ان قلتم ما ليس فيه فقد بهتموه.

Dan sebagian dari maksiatnya lisan adalah ghibah/gosip(membicarakan kejelekan orang lain) yang di maksud ghibah adalah penuturanmu tentang kejelekan muslim yang lain yang ia(orang yang digosipi) tidak suka jika kejelekannya itu disebut-sebut, sekalipun ia mendengar dengan apa yang kamu tuturkan. Baik kejelekan itu terdapat pada badanya, nasabnya, tingkah lakunya, perbuatanya, ucapanya, atau agamanya. Dan walaupun yang kau tuturkan cocok dengan kenyataan yang sebenarnya, karena ada hadis Rosul Saw ”Apakah kamu sekalian sedang membicarakan kejelekan orang lain ? Sohabat menjawab ”kenyataannya memang seperti itu ya rosul! Rosul berkata ”jika bukan kenyataan itu namanya membuat-buat”.

اسعاد الرفيق/ج٢/ص٧٠ومن الذى ذكره العلماء من معاصى اللسان الغيبة والسكوت عليها وضابها اوتقريرا وهى الغيبة بمعنى حدها كمايوءخذ من الحديث مع ما صرح به الاءمة ذكرك اخك المسلم وكذا الذمي على ماياتي المعين للسامع سواء الحي والميت.

Dan salah satu yang diterangkan Ulama’ bahwa gosip(membicarakan kejelekan orang lain) adalah maksiatnya lisan dan dosa pula mendengarkannya dan ia(orang yang mendengarkan) menyetujuinya. Ghibah itu melalui yang diterangkan Aimmah seperti dalam hadis adalah ”Apa yang kamu bicarakan tentang saudaramu yang muslim, ataukah kafir dzmmi dan kamu jelaskan kepada orang yang mendengarkan siapa yang kamu bicarakan, baik orang itu masih hidup atau sudah mati.Is’adur Rofiq/juz 2/hal 70 —

Link asal dok.piss ktb

http://www.piss-ktb.com/2012/03/f0050-hukum-gosip.html?m=1

• Sunde Pati 
siipp

tambahan buat pelengkap dokumen

Hukum gosip/memuat aib orang lain tersebut adalah Haram, kecuali jika tidak dinyatakan orangnya atau mereka tergolong orang yang boleh dibuka rahasianya menurut syara’ seperti kafir haroby atau orang fasiq yang menampakkan kefasikannya, dengan tujuan agar dengan hal tersebut dapat menjauhkan masyarakat (para pembaca) dari pembuatan itu.

وهى اى الغيبة ذكرك ولو بنحو اشارة غيرك المحصور المعين ولو عند بعض المخاطبين بما يكره عرفا. (قوله ولو بنحو اشارة) دخل تحت نحو الغمز والكتابة والتعرض (قوله غيرك) والمراد بالغير ما يعم المسلم والذمى -إلى أن قال- واما الحربى فليس بمحرم (قوله المحصور المعين) وخرج بذلك غير المعين كان يذم البخلاء او المتكبرين او المرائين ويتعرض لهم بالتنقيص من غير تعيين احد منهم فهذا لايعد غيبة، -إلى أن قال- (واعلم) ان اصل الغيبة الحرمة، وقد تباح لغرض صحيح شرعى لايتوصل اليه الا بها وينحصر فى ستة اسباب وقد تقدم الكلام عليها لكن يحسن ذكرها هنا ايضا وهى التظلم فلمن ظلم بالبناء للمجهول ان يشكو لمن يظن ان له قدرة على ازالة ظلم او تخفيفه والاستعانة على تغيير منكر يذكره لمن يظن قدرته على ازالته -إلى أن قال- وتحذير المسلمين من الشر ونصحهم كجرح الرواة والشهود والتجاهر وبالفسق فيجوز ذكر المتجاهر بما تجاهر به دون غيره

I’anatut Tholibin, juz IV, hal. 284

• Ibnu Al-Ihsany 
tambahan .....

الزواجر عن اقتراف الكبائرلأبي العباس أحمد بن محمد بن علي ابن حجر المكي الهيتمي المتوفى ٩٧٤ هـ

ج ٢ صحـ ٧{الكبيرة الثامنة والتاسعة والأربعون بعد المأتين : الغيبة والسكوت عليها رضا وتقريرا}

Dosa besar ke 248 dan 249 : ghibah (gosip) dan diam atas ghibah dengan ridho dan mengakui

قال تعالى؛

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ {١١}

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ {١٢}

الحجرات ؛١١ـ١٢

والسخرية : النظر إلى المسخور منه بعين النقص ؛ أي لا تحتقر عسى أن يكون عند الله خيرا منك وأفضل وأقرب

____________

السخرية

ialah melihat pada yang dihina dengan pandangan melecehkan; yakni kamu janganlah menghina orang lain, kemungkinan dia disisi Allah lebih baik, lebih utama dan lebih dekat daripada kamu.

ج ٢ صحـ ٨فكأنه تعالى قال لا تتكبروا فتستحقروا إخوانكم بحيث لا تلتفتوا إليهم أصلا، وأيضا فلا تعيبوهم طلبا لحط درجتهم، وأيضا فلا تسموهم بما يكرهونه

maka seakan akan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : janganlah kalian sombong kemudian kalian menghina saudara kalian sekiranya kalian tidak menoleh pada mereka sama sekali, dan juga jangan mencela mereka karena untuk merendahkan derajat mereka, dan juga jangan menyebut mereka dengan hal yang tidak mereka sukai.

ونبه تعالى بقوله ؛ {أنفسكم} على دقيقة ينبغي التفطن لها، وهي أن المؤمنين كلهم بمنزلة البدن الواحد إذا اشتكى بعضه اشتكى كله.

Dan Allah ta'ala mengingatkan dengan firmannya :

{أنفسكم}

atas hal yang sangat kecil yang sebaiknya harus dipahami, yaitu bahwa sesungguhnya orang-orang beriman kesemuanya itu bagaikan satu tubuh, ketika sebagian mengeluh (sakit) maka semuanya ikut mengeluh (sakit).

فمن عاب غيره ففي الحقيقة إنما عاب نفسه نظرا لذلك، وأيضا فتعييبه للغير تسبب إلى تعييب الغير له فكأنه الذي عاب نفسه فهو على حد الخبر الآتي ؛ «لا يسبن أحدكم أباه، قالوا: وكيف يسب الرجل أباه يا رسول الله ؟ قال ؛ يسب أبا الرجل فيسب أباه» وعلى حد قوله تعالى ؛ {ولا تقتلوا أنفسكم}ـ

Maka barang siapa mencela orang lain, sejatinya dia mencela diri sendiri dengan melihat hal tersebut (penjelasan di atas). Dan juga pencelaan terhadap orang lain itu menjadi sebab pada pencelaan orang lain padanya, maka seakan-akan sesungguhnya orang yang mencela diri sendiri maka dia ada pada lingkup hadits berikut«Sungguh janganlah kalian mencaci maki ayahnya, para sahabat bertanya: bagaimana seseorang bisa mencaci maki ayahnya wahai Rosululloh? Nabi bersabda: seseorang mencaci maki ayah orang lain, kemudian orang lain itu mencaci maki ayahnya». Dan pada lingkup firman Allah: «Dan janganlah kalian membunuh diri sendiri».

____________

Jadi dari keterangan di atas dan keterangan dari teman-teman itu menunjukkan bentuk pengajaran dari syari'at agar kita bisa menjaga harga diri dan nama baik kita dengan tidak mencaci, tidak menghina, dan tidak merendahkan orang lain. Termasuk dari bentuk merendahkan adalah ghibah (menceritakan kejelekan/keburukan dari orang lain).Dan bahkan Allah menyamakan harga diri dengan daging. Bentuk persamaan ini karena orang yang ghibah menyakiti hati seseorang dari sisi menggerogoti dengan mencela nama baiknya, itu seperti menyakiti badannya dengan memotong dagingnya untuk dimakan. Karena harga diri orang yang berakal menurutnya lebih mulya dari pada daging dan juga darahnya.Maka dari itu sebagaimana tidak baik orang berakal memakan daging manusia, juga tidak baik bahkan lebih tidak baik jika orang yang berakal itu mencemarkan nama baik atau harga diri atau nama baik.

Wallohu a'lam

LINK DISKUSI :
https://www.facebook.com/groups/545259458845146?view=permalink&id=593705757333849&refid=18&_ft_

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © KAJIAN ISLAM SEPUTAR SEKS - DONK 2014-2015
Ikuti Kami di Facebook & Fans Page