0366. ORANG TUA NABI

• Ibnu Al-Ihsany

ORANG TUA NABI

______*****______

الدفاع في الرد على أهل الابتداع

Menolak Pendapat Para Pelaku Bid'ah
Penyusun: Forum Santri Sunniyah Salafiyah Pasuruan

_______________________

Hal 182-185
_______________________


==============
Mereka Berkata:
==============

Dalam kitab Shahihnya, Imam Muslim radliyallohu anhu meriwayatkan sebuah hadits:

عن أنس أن رجلا قال : يا رسول الله أين أبي؟ قال : في النار فلما قفي دعاه، فقال : إن أبي وأباك في النار [صحيح مسلم ـ {١ـ١٩١}]ـ
Dari Anas, bahwasannya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, dimanakah ayahku?" Rasulullah menjawab: "Dia di neraka". Ketika orang tersebut hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya seraya berkata: "Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka."
(HR Muslim)

Dalam bagian lain dari kitabnya, Imam muslim radliyallohu anhu meriwayatkan hadits:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : زار النبي صلى الله عليه وسلم قبر أمه فبكى وأبكى من حوله، فقال : استأذنت ربي في أن أستغفر لها فلم يؤذن لي واستأذنته في أن أزور قبرها فأذن لي، فزوروا القبور فإنها تذكر الموت [صحيح مسلم ـ {٢\٦٧١}]ـ
Dari Abi Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wasallam berziarah ke kubur ibunda beliau, kemudian menangis dan mereka yang ada di sekelilingnya menangis. Lalu Nabi bersabda:
"Aku meminta izin pada Tuhanku untuk memohonkan ampun bagi ibu akan tetapi tidak dikabulkan. Dan aku meminta izin untuk menzarahinya, kemudian aku di izinkan. Maka berziarahlah kalian karena itu dapat mengingatkan kalian akan mematikan."
(HR Muslim)

Benarkah kedua orang tua Nabi shallallahu alaihi wasallam penghuni neraka?
==============
Kami Menjawab
==============

Kaum Asy'ariyah dan jumhur Syafi'iyah menetapkan bahwa mereka yang wafat pada masa fatrah (sebelum diutusnya Rasulullah) termasuk golongan yang selamat. Ini berdasar firman Allah Shallallahu alaihi:
مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا {الإسراء ؛ ١٥}ـ
" ................................Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus Rasul."
(Q.S Al-Isra' : 15)

Orang tua Nabi wafat sebelum beliau diutus sebagai Rasul, berarti mereka termasuk ahli fatrah yang selamat dari azab. Lagi pula tidak ada keterangan yang jelas bahwa mereka pernah melakukan perbuatan syirik. Bahkan Imam Fakhrur Razi radliyallahu anhu menyatakan : "bahwa bukan hanya kedua orang tua Nabi shallallahu alaihi wasallam saja yang selamat, akan tetapi semua datuk-datuk beliau sampai Nabi Adam"
(At-Tafsir Al-Kabir {13/33}).
Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ {٢١٨}
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ {٢١٩}ـ
"Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud."
(Q.S Al-Sy'ara' : 218-219)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kalimat

وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
(perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud) adalah perpindahan cahaya Nabi dari sulbi seorang ahli sujud (muslim) ke ahli sujud yang lain, sampai dilahirkan sebagai seorang nabi.
(Zad Al-Masir {6/ 148-149}, Ad-Durr Al-Mantsur {6/332}, Ruh Al-Ma'ani {19/137})

Imam Alusi dalam Tafsir Ruhul Ma'ani ketika berbicara mengenai ayat
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
berbicara: "Aku menjadikan ayat inj sebagai dalil atas keimanan kedua orang tua Nabi sebagaimana yang dinyatakan oleh banyak tokoh ahlus sunnah. Dan aku khawatir kufurnya orang yang mengatakan kekafiran keduanya. Semoga Allah merahmati kedua orang tua Nabi..."
(Ruh Al-Ma'ani {19/138})

Sedangka mengenai Azar yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai ayah Nabi Ibrahim:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ {الأنعام ؛ ٧٤}ـ
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Âzar :
"Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."
(Q.S Al-An'am: 74)

Sebagian mufassirin berkata: "Bahwa yang dimaksud dengan Abihi (bapaknya) dalam ayat di atas bukanlah ayah kandung Nabi Ibrahim, akan tetapi ayah asuhnya yang juga adalah pamannya."
Hal ini juga diisyaratkan oleh perkataan Nabi:
لم أزل أنقل من أصلاب الطاهرين إلى أرحام الطاهرات
"Aku selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula."
Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci. Ini menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang-orang musyrik, karena jelas orang-orang musyrik telah dinyatakan najis dalam firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ {التوبة ؛ ٢٨}ـ
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis......................"
(At-Taubah : 28). (At-Tafsir Al-Kabir {13/33}, Ruh Al-Ma'ani {7/194})

============================
Tanggapan Hadits Riwayat Muslim
============================

Adapun mengenai dua hadits yang diriwatkan oleh Imam Muslim, kalaupun kita sepakati sebagai hadits shohih, selayaknya kita tidak mengambil dhohir dari hadits tersebut. Ada hadits-hadits lain tentang peristiwa dihidupkannya kedua orang tua Nabi atas permintaan Beliau untuk kemudian diwafatkan kembali setelah mengimani kerasulannya, meski hadits-hadita tersebut tergolong dlaif yang telah dikuatkan ayat-ayat di atas.
Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin, Khotib Al-Baghdadi dan Daruquthni dengan sanad dlaif dari Aisyah:
قالت حج بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حجة الوداع فمر بي على عقبة الحجون وهو باك حزين مغتم فنزل فمكث عني طويلا ثم عاد إلي وهو فرح مبتسم فقلت له فقال : ذهبت لقبري أمي فسألت الله يحييها فأحياها فآمنت بي وردها الله
"Rasulullah berhaji kami dalam Haji Wada kemudian melewatiku di atas Uqbatul Hajun dalam keadaan menangis, sedih, dan gundah. Kemudian beliau singgah dan menjauhiku dalam waktu lama, lalu kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum. Lalu aku bertanya, dan beliau menjawab: "Aku pergi ke kubur ibuku kemudian aku minta kepada Allah untuk mendapatkannya, kemudian Allah pun menghidupkannya, lalu ibuku beriman kepadaku, kemudian Allah mewafatkannya kembali."
Diriwayatkan Dari Imam Suhail dalam kitab Raudlnya:
إن رسول الله صلى الله عليه وسلم سأل ربه أن يحيي أبويه فأحياهما له ثم آمنا ثم أماتهما
"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memohon kepada Tuhannya untuk menghidupkan kedua orang tuanya, maka Allah hidupkan keduanya baginya, kemudian keduanya beriman, lalu Allah mewafatkan keduanya."
(Kasy Al-Khafa' {1/63}, Al-Laâli' Al-Mashnu'ah {1/244-245})

Menanggapi hadits ini, Imam Al-Qurthubi: "Tidak ada pertentangan antara hadits dihidupkannya kembali orang tua Nabi dan hadits mengenai tidak diizinkannya Rasulullah untuk beristighfar bagi keduanya (hadits Muslim di atas). Karena hadits dihidupkannya orang tua Nabi datang lebih akhir (terjadi dalam Haji Wada') ketimbang hadits tentang istighfar. Oleh karena itu Ibnu Syahin menjadikannya sebagai Nasikh (hadits yang menghapus) atas hadits sebelumnya."
(Al-Laâla' Al-Mashnu'ah {1/246})

Selain itu Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad, perawi hadits Muslim di atas diragukan oleh para ahli hadits, dan hadita tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal, banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma'mar dari Anas, Al-Baihaqi dari Sa'ad bin Abi Waqash:
إن أعرابيا قال لرسول الله أين أبي ؟ قال : في النار، قال : فأين أبوك؟ قال : حيثما مررت بقبر كافر فبشره بالنار
"Sesungguhnya seorang badui berkata kepada Rasulullah: "Dimana ayahku?" Rasulullah menjawab: "Dia di neraka." Si badui pun bertanya kembali: "Dimana ayahmu?" Rasullah pun menjawab: "Sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka."
Riwayat di atas datang tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.
*** Ahli hadits sepakat bahwa Ma'mar dan Baihaqi lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma'mar dan Baihaqi harus di dahulukan ketimbang riwayat Hamnad. (Masalik Al-Hunafa Fi Walidai Al-Musthafa {2/432-435}, Hasyiyah As-Sanadi Ala Ibn Mâjah juz 2, hal. 348)
_________________*********__________________

LINK ASAL :
https://www.facebook.com/groups/kiss.donk/permalink/601551473215944/

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © KAJIAN ISLAM SEPUTAR SEKS - DONK 2014-2015
Ikuti Kami di Facebook & Fans Page